Posts

Showing posts from March, 2024

Siapa Diri Kita Sebenarnya

 Siapa Diri Kita Sebenarnya ~ Y.M. AJAHN SUMEDHO Saat kita merenungkan Dhamma, ajaran Sang Buddha, adalah sangat baik untuk mempertanyakan apakah sebenarnya sebuah personalitas (kepribadian) itu, yaitu rasa keterpisahan diri kita, individualitas, persepsi diri kita sebagai seseorang yang terpisah dari yang lainnya. Sekarang ini orang-orang mulai lebih memahami mengenai sifat dari kesadaran, namun meskipun hal tersebut merupakan sebuah pengalaman yang kita semua miliki, namun hal tersebut mungkin yang paling kurang dipahami. Para ilmuwan sedang mempelajari kesadaran, mencoba untuk menemukan sebuah landasan secara fisik untuknya. Apakah kesadaran ada di dalam otak? Apakah kesadaran itu? Tapi hal ini seperti mencoba untuk menemukan diri kita yang sebenarnya. Semakin kita mencoba untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya, semakin tampaknya kita berjalan dalam lingkaran atau mengejar bayang-bayang; kita tidak bisa benar-benar menggenggam apa pun untuk waktu yang sangat lama dan ia leny...

Tunduk pada perubahan

 Tunduk Pada Perubahan ~ Y.M. Ajahn Chah Kita perlu memahami bahwa bahkan Buddha sendiri dengan himpunan besar kebajikan-Nya yang terkumpul, tidak dapat menghindari kematian fisik. Ketika Ia mencapai usia tua Ia menyerahkan tubuhnya dan melepaskan beban berat tubuh itu. Sekarang kita juga harus belajar untuk merasa puas dengan tahun-tahun saat kita bergantung pada tubuh. Seperti peralatan rumah tangga yang telah kita miliki dalam waktu yang lama – cangkir, piring ceper, piring makan, dan sebagainya – saat untuk pertama kali kita mendapatkannya mereka bersih dan bersinar; tapi sekarang setelah menggunakan mereka untuk waktu yang lama, beberapa ada yang rusak, beberapa ada yang hilang, dan mereka yang tersisa mengalami keusangan. Mereka tidak memiliki bentuk yang abadi. Itulah sifat mereka untuk menjadi seperti itu. Tubuh kita dalam kondisi yang sama. Kebenaran ini berlaku tidak untuk kita saja. Kita semua berada di dalam perahu yang sama – bahkan Buddha dan para siswa-Nya yang telah...

Melangkah

 M E L A N G K A H ~ Y.M. Cheng Yen Idealnya, akan benar-benar indah jika segala sesuatu bisa menjadi seperti yang kita inginkan, tetapi kebenarannya adalah dalam hidup banyak hal yang tidak berada dalam kendali kita. Namun, saat kita berada di sebuah posisi untuk membuat sebuah pilihan, kita sering tidak melakukannya. Kesempatan yang mengarah pada jenis kehidupan yang kita harapkan ada di hadapan kita, tapi kita tidak mengambil tindakan apa pun. Pada akhirnya, kita tidak bisa menyalahkan keadaan kita; kita sendirilah yang tidak membuat gerakan untuk mengubah keadaan kita. Hal ini seperti seseorang berdiri di tengah sebuah lubang kotoran. Di depannya sebuah mata air yang tenang dengan bunga teratai yang menakjubkan yang mengapung di air yang jernih. Keindahannya membuat ia menghelakan napas. “Betapa luar biasanya jika berada di sana, di mata air dengan bunga-bunga indah yang bermekaran itu!” Keinginan yang sangat mengisi perasaannya. Mata air tersebut sebenarnya sangat dekat; jika ...

Bagaimanakah Memilih Agama

 Bagaimanakah Memilih Agama ~ Ven. Dr. K. Sri Dhammanada Pada masa Sang Buddha, telah terdapat banyak aktivitas intelektual besar di India. Beberapa orang terpandai yang terkemuka di dunia telah berkecimpung di dalam kontroversi-kontroversi besar keagamaan sepanjang masa. Apakah ada Sang Pencipta? Tidak adakah Sang Pencipta? Adakah jiwa itu? Tidak adakah jiwa itu? Apakah dunia tanpa awal? Apakah ada sebuah awal permulaan? Ini merupakan beberapa topik yang hangat diperdebatkan oleh para pemikir terhebat sepanjang waktu. Dan tentu saja, seperti masa sekarang ini, semua mengklaim bahwa hanya dialah yang memiliki semua jawaban dan siapapun yang tidak mengikutinya akan dikutuk dan dimasukkan ke dalam neraka! Sebenarnya, semua pencarian keras atas kebenaran ini hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi kebingungan. Sekelompok pemuda yang tekun yang disebut suku Kalama pergi menghadap Sang Buddha dan memberitahukan kepada Beliau mengenai kebingungan mereka. Mereka bertanya kepada-Nya apak...

Buddhisme, Sains Yang Sejati

 Buddhisme, Sains Yang Sejati ~ Y.M. VEN. AJAHN BRAHMAVAMSO Buddhisme lebih bersifat ilmiah dibanding dengan sains modern. Seperti halnya sains, Buddhisme berdasarkan pada hubungan sebab-akibat yang dapat dibuktikan. Tetapi tidak seperti sains, Buddhisme menghadapi setiap kepercayaan dengan saksama. Kalama Sutta yang terkenal dalam Buddhisme menyatakan bahwa seseorang jangan mempercayai secara penuh pada “apa yang seseorang ajarkan, pada tradisi, kabar burung, kitab suci, logika, kesimpulan, penampilan, kesepakatan berdasarkan pada opini, berdasarkan kesan atas kemampuan sang guru, atau bahkan pada guru pribadi seseorang”. Berapa banyak ilmuwan yang tegas dalam pemikiran mereka seperti ini? Buddhisme menghadapi segalanya, termasuk logika. Perlu dicatat adalah bahwa Teori Kuantum muncul sebagai sesuatu yang tidak logis, bahkan bagi seorang ilmuwan besar seperti Einstein, ketika teori tersebut diajukan untuk pertama kalinya. Teori tersebut belum disangkal. Logika hanya dapat dipercay...

Empat Dimensi Kesadaran

 Empat Dimensi Kesadaran (1)  ~ Bodhipaksa    Dalam Ajaran Buddha, ada beberapa istilah yang diterjemahkan sebagai kesadaran atau  dihubungkan dengan konsep kesadaran, dan setiap satunya mempunyai aroma berbeda.  Adalah bermanfaat untuk mengetahui perbedaan aspek-aspek kesadaran itu.    1. SATI (Kesadaran Penuh)   Sati kebanyakan hanya berarti 'mengingat kembali', baik dalam arti memori (saya ingat kamu  bilang ingin bermeditasi) dan dalam arti 'berkumpul kembali sekali lagi' (saya harus  memperhatikan diri sendiri setelah seharian sibuk)    Sati adalah aspek kesadaran yang mengetahui apa yang terjadi pada waktu tertentu.  Contohnya, saat kita menyadari postur kita, kita berada dalam mood tertentu, pikiran kita  sedang awas atau jemu, maka itulah sati. Sati adalah suatu kondisi kewaspadaan dimana  kita memberi perhatian pada apa yang sedang terjadi disini dan sekarang. Saat kita sedang  penuh perhatian ...