Empat Dimensi Kesadaran

 Empat Dimensi Kesadaran (1)

 ~ Bodhipaksa 

 

Dalam Ajaran Buddha, ada beberapa istilah yang diterjemahkan sebagai kesadaran atau  dihubungkan dengan konsep kesadaran, dan setiap satunya mempunyai aroma berbeda.  Adalah bermanfaat untuk mengetahui perbedaan aspek-aspek kesadaran itu. 

 

1. SATI (Kesadaran Penuh)

 

Sati kebanyakan hanya berarti 'mengingat kembali', baik dalam arti memori (saya ingat kamu  bilang ingin bermeditasi) dan dalam arti 'berkumpul kembali sekali lagi' (saya harus  memperhatikan diri sendiri setelah seharian sibuk) 

 

Sati adalah aspek kesadaran yang mengetahui apa yang terjadi pada waktu tertentu.  Contohnya, saat kita menyadari postur kita, kita berada dalam mood tertentu, pikiran kita  sedang awas atau jemu, maka itulah sati. Sati adalah suatu kondisi kewaspadaan dimana  kita memberi perhatian pada apa yang sedang terjadi disini dan sekarang. Saat kita sedang  penuh perhatian apakah kita sedang sadar akan sensasi tubuh, perasaan dan pikiran kita.  

 

Lawan dari sati adalah gangguan perhatian (distraction/asati), yang bisa melibatkan pikiran  yang melayang dari ide ke ide lain tanpa pengawasan kita. Ini adalah satu dari bentuk  ketidakperhatian yang paling umum, dan sesuatu yang dialami oleh meditator. Pikiran berkelana, dan kemudian sulit untuk mengatakan dimana dia dan apa yang ia lakukan. Asati  juga dapat melibatkan suatu kelekatan pada satu tugas, tetapi kelekatan yang  mengabaikan pengalaman umum kita. Ketika kita sedang bekerja keras pada suatu proyek  dan merasakan leher kita tegang, bahu kita sakit, dan kita dalam bad mood, ini adalah tanda  kita telah berfokus dengan cara yang agak dipaksakan dan tidak berperhatian akan apa yang  kita kerjakan.  

 

Biasanya ketika orang berkata 'berada di saat ini' mereka berbicara tentang sati. 

 

Sati adalah mengetahui apa yang sedang terjadi dalam pengalaman kita saat ini, dan kita  perlu tahu ini agar dapat membuat perubahan yang berarti. Jika kita tidak tahu di mana kita berada, bagaimana dapat sampai ke mana kita ingin pergi? 

2. SAMPAJANNA (Kesadaran Pikiran)

 

Sampajanna adalah aspek kesadaran yang berkembang setelah suatu jangka waktu  tertentu. Sampajanna melibatkan kesadaran akan tujuan (ke mana kita akan pergi), dan  suatu kesadaran akan di mana kita sudah berada. Jadi kita mungkin duduk bermeditasi  dan menyadari kita perlu melatih cinta kasih. Ketika kita melakukan itu kita mengembangkan suatu pengertian di mana kita ingin pergi. Ini agak berbeda dari apa yang  orang pikirkan ketika mereka berpikir kesadaran sebagai 'berada di saat ini' dan 'melepaskan  masa lalu dan masa depan'. Sampajanna mengijinkan kita memikirkan masa depan secara penuh kesadaran.  Setelah memutuskan ke mana kita akan pergi, kemudian kita memeriksa  diri kita dari waktu ke waktu selama meditasi. Ini menerapkan sati untuk melihat apa yang  sedang terjadi. Sampajanna membandingkan di mana kita dengan ke mana kita akan pergi, dalam hal ini mengevaluasi 'apakah saya membuat kemajuan dalam melatih cinta kasih?'  

 

Sampajanna juga melihat ke masa lalu. Ketika kita mengingat hari dan berpikir  bagaimana keadaan terjadi, adalah mungkin melakukan ini secara penuh kesadaran.  Daripada pikiran hanya tersesat dalam ide-ide tentang masa lalu, kita secara sadar dan  penuh perhatian mengingat kejadian-kejadian. Kita dapat mengingatkan diri sendiri akan  sukses sukses kita dan menganalisa penyimpangan. Sekali lagi, ini sangat berbeda dari  pengertian kasar dari 'berada di saat ini'. Dengan sampajanna kita membawa masa lalu,  dengan penuh kesadaran, ke dalam saat ini. Kita dapat berada di saat ini dan berpikir  tentang masa lalu. 

 

Sering dalam kitab suci, istilah sati dan sampajanna digabungkan dalam kata majemuk, sati-sampajanna, dan dalam kata majemuk ini sering diterjemahkan  'kesadaran/mindfulness'. Sampajanna perlu agar kita secara berkala memperbandingkan ke  mana kita pergi dengan di mana kita ingin berada. Sampajanna adalah seperti kompas yang  memberi kita haluan.

3. DHAMMA-VICAYA (Kesadaran Batin)

Dhamma-vicaya adalah aspek kesadaran yang mengelompokkan pengalaman kita dalam  beberapa model atau yang lain. Suatu aspek penting meditasi adalah belajar cara-cara  mengkategorikan baik gangguan (rintangan) maupun kualitas positif yang dapat kita  kembangkan dalam meditasi (faktor-faktor dhyana). Dhamma-vicaya adalah tindakan  memperbandingkan pengalaman batin kita dengan sebuah peta mental, agar kita dapat  menavigasi lebih tepat ke arah tujuan kita.  

 

Sejenis peta paling sederhana yang dapat Anda miliki seperti pembagian kondisi emosional  Anda ke dalam 'positif' (kondisi yang konstruktif dan bermanfaat, seperti cinta, empati,  keyakinan) dan 'negatif' (yang cenderung merusak seperti kebencian, ketamakan, sinisme). 

 

Dan ini dapat dikembangkan dalam cara yang lebih canggih untuk bekerja dengan peta  mental kita. Misalnya, ada daftar tradisional dari 'rintangan' yang dapat kita alami dalam  meditasi. Inilah keadaan mental yang terganggu yang menyebabkan penderitaan kita:  kondisi yang termasuk keresahan dan kecemasan, kemalasan dan mengantuk, keraguan,  hasrat sensual, dan keinginan jahat.


Dhammavicaya dapat berupa sebentuk diagnosis, yang  memungkinkan kita mengevaluasi lebih tepat akan apa yang sedang terjadi. Tentu saja juga ada daftar kondisi mental positif yang timbul dalam meditasi, seperti faktor-faktor dhyana  seperti vitaka, vicara, piti, sukha dan ekagata. Dan lagi Dhammavicaya sangat diperlukan  untuk mengevaluasi kondisi kita saat ini. 

 

Mungkin bentuk paling sederhana dari Dhammavicaya adalah teknik meditasi vipassana yaitu 'mencatat', dimana kita secara batin 'menyebutkan' aspek paling menonjol dalam  pengalaman kita. Kita mungkin berkata 'masuk, keluar' saat kita mengamati pernapasan kita,  atau kita dapat berkata 'berdenyut' ketika kita mengamati daerah yang sakit. 

 

Pengembangan penuh dari Dhammavicaya menjadi perangkat manjur sangat kita perlukan  agar kita mempunyai peta batin, dimana termasuk belajar dari studi dan dari pengalaman  dari pengalaman mental yang berbeda-beda yang timbul, dan juga belajar mengenali semua ini dalam pengalaman kita. Jika misalnya, Anda tidak tahu apa itu panca nivarana atau  tidak dapat mengenali mereka ketika timbul, maka Anda tidak akan dapat memanfaatkan  mereka sebagai alat diagnosa. 

4. APPAMADA (Kesadaran Waspada)

 

Appamada adalah kesadaran dalam arti kewaspadaan. Kesadaran yang timbul dalam rasa  pentingnya tugas yang sedang dijalani. Beberapa kitab berkata jika kita kehilangan  kesadaran kita, kita harus mengambilnya kembali seperti prajurit yang telah membuang  pedangnya di tengah pertempuran. Analogi menarik lainnya adalah kita harus bertindak  secepat seseorang yang telah mengetahui topinya terbakar. Appamada adalah aspek  dinamis dari kesadaran.  

 

Semua aspek kesadaran ini bekerja bersama secara sinergis. Sampai batas tertentu kita  harus mengembangkan mereka secara terpisah, tetapi untuk mengembangkan salah satu secara penuh kita harus mengembangkan yang lain.  

 

Adalah tidak selalu mudah membagi jenis-jenis kesadaran yang berbeda ini, dan sebenarnya  itu bukan bermaksud agar kita mengetahuinya. Jika kita sadar pada diri kita sendiri dan sadar akan pikiran, perasaan, sensasi, dan pada saat yang sama kita secara otomatis  menyadari apakah kita sedang mengalami rintangan atau faktor mental positif sedang  timbul, dan jika kita secara waspada kembali menyadari setiap kali pikiran kita  mengembara, mungkin sati, sampajanna, dhamamvicaya dan appamada hadir semua. Tidak  banyak yang dapat diperoleh dari mencoba mencari tahu apakah aspek yang satu lenyap  dan aspek lain timbul. Tetapi jika satu dari semua ini kurang maka adalah penting untuk  dapat mengetahuinya. Jika kita sadar kita ada dimana, tetapi tidak mempunyai rasa  punya tujuan, maka mungkin perlu melatih sampajanna. Jika kesadaran kita agak kabur maka mungkin kita perlu mulai mencatat apa persisnya yang sedang terjadi dengan cara  menyebut namanya, apakah saya dalam rintangan dan jika benar, rintangan yang mana?  Apakah saya kurang faktor mental positif dalam pengalamanku ini, dan jika benar, faktor  mental positif mana yang harus saya latih? Jika pikiran cenderung sering hanyut, maka  mungkin kita perlu kewaspadaan appamada.  

 

Mengetahui empat aspek kesadaran dapat membantu latihan kita lebih efektif. 

Kadang-kadang ketika orang memiliki pemahaman yang kasar tentang apa artinya 'berada di  saat ini', mereka menganggap bahwa kita tidak harus memiliki tujuan dalam meditasi,  mereka tidak menyadari bahwa itu adalah cara kita berhubungan dengan tujuan kita itu  penting. Dan kurangnya kemampuan untuk menyebut kondisi mental kita berarti kita tidak  dapat bekerja dengannya secara efektif. Mengembangkan keahlian dalam meditasi, dan  dunia batin secara umum, membutuhkan keakraban dengan semua aspek kesadaran.

Comments

Popular posts from this blog

Malu

Power of now

Kilesa