Posts

Atomic habits

*4 KAIDAH PERUBAHAN PRILAKU* *1* *Buat Terlihat Jelas* (Make It Obvious) - Kebiasaan yang terlihat akan lebih mudah dilakukan. - Rancang lingkungan agar kebiasaan baik mudah terlihat. - Contoh: Letakkan buku di atas meja jika ingin membiasakan membaca. *2* *Buat Menarik (Make It Attractive)* - Semakin menarik suatu kebiasaan, semakin besar keinginan untuk melakukannya. - Hubungkan kebiasaan dengan sesuatu yang Anda sukai. - Contoh: Dengarkan musik favorit hanya saat berolahraga. *3* *Buat Mudah (Make It Easy)* - Kurangi hambatan untuk memulai. - Fokus pada tindakan kecil yang bisa dilakukan dalam waktu kurang dari dua menit. - Contoh: Mulai membaca hanya satu halaman setiap hari. *4* *Buat Memuaskan (Make It Satisfying)* - Otak cenderung mengulang perilaku yang memberikan kepuasan. - Beri penghargaan kecil setelah menyelesaikan kebiasaan baik. - Contoh: Centang kalender setiap kali berhasil menjalankan kebiasaan harian. _*Inti dari empat kaidah ini*_: *Terlihat Jelas* → *Menarik* → *Mu...

BIJAKSANA DENGAN KETIDAK-PASTIAN

 BIJAKSANA DENGAN KETIDAK-PASTIAN ~ Alan Watts MENERIMA KETIDAK-PASTIAN 1. Hidup ini selalu penuh dengan ketidakpastian. Tak peduli seberapa banyak kita merencanakan atau berusaha mengontrol segala hal, ada begitu banyak yang tidak bisa kita kendalikan. Kita sering merasa cemas tentang masa depan, takut akan apa yang belum kita ketahui, dan berharap bisa menghindari hal-hal yang tak pasti. Tapi, kenyataannya, ketidakpastian adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. 2. Pikirkan tentang cuaca. Kita bisa merencanakan hari kita, memilih pakaian yang tepat, dan berharap tidak akan hujan. Namun, suatu hari langit bisa tiba-tiba mendung, hujan turun deras, dan kita harus berlari mencari perlindungan. Ketidakpastian cuaca itu, meski sederhana, mengingatkan kita bahwa hidup memang penuh dengan kejutan yang tidak bisa kita prediksi. Sama halnya dengan hidup kita sehari-hari. Kita merencanakan pekerjaan, hubungan, atau tujuan pribadi, tetapi banyak hal yang berada di luar kendali kita. Bahkan...

7 kekayaan Mulia

 Kemiskinan adalah Dukha : Makanya orang Buddhist tidak boleh miskin harus kaya.  Kekayaan adalah kebahagiaan di dunia karena ini adalah kehidupan. Dalam kehidupan duniawi kita masih butuh Harta, tahta, cinta. Kekayaan adalah jalan untuk mencapai 3 freedom yaitu : Financial Freedom ini adalah kebebasan dari rasa kekurangan. Kebebasan dari segi keuangan. Tidak kekurangan uang. Uang berlebihan, ingin ini ingin itu ada uangnya. Uang bukan segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang. Uang tidak bisa membeli kesehatan tapi bayangkan kalau sakit tidak punya uang ya pergi mati saja kau. Semua kebutuhan, bisa di dapat dengan uang. Dengan uang kita bisa membuat sistem dan memperoleh time freedom Time Freedom : Time freedom adalah kebebasan dari waktu. Tapi bukan berarti kita bersantai sepanjang segala abad. Tapi kia bisa menantukan sendiri kapan waktu kita bekerja kapan waktu untuk beristirahat. Tapi bila orang yang mentalnya belum kuat. Time freedom ini akan di gunakan untuk bermala...

Meditasi VS Instrospeksi

(disclaimer dulu ya, kita di sini sama2 belajar, jadi saya tdk bermaksud 'menggurui'). Meditasi' =/= Introspeksi. Meditasi dari perspektif Tergar = Kesadaran, maksudnya kita mengetahui apa yg sedang kita lakukan, apa yg sedang kita pikir, yg sedang kita rasa. Kata kuncinya di sini adl MENGENALI.  Contoh: kita baca chat WA ini, klo kita mengetahui ada objek berupa huruf, kita mengetahui sedang melihat, mk itu adl meditasi. Di sini kita tdk menilai atau tdk mengartikan apa yg kita baca-non judgement.  Tapi pada saat kita 'melakukan introspeksi' beda lagi.  Contoh: sambil atau setelah baca chat WA ini, kita melakukan 'introspeksi'. Di sini ada unsur memaknai, menilai, dan menimbang.  Namun, selama kita melakukan itu semua dengan sadar dan jg mengetahui apa yg sedang terjadi dg diri kita (apakah kita sedang baca, sedang memaknai, sedang mikir, dsb)...mk kegiatan introspeksi tadi berubah dari introspeksi 'non meditasi' menjadi introspeksi 'dengan medi...

Berpikir seperti sangha

 BERPIKIR SEPERTI SANGHA ~ Jay Shetty LEPASKAN LABEL PALSU 1. Sejak kecil, kita dibentuk oleh label yang ditempelkan orang lain. Ada yang dipuji sebagai anak pintar, ada yang dikenal pendiam, ada yang disebut nakal. Lama-lama, label itu terasa seperti identitas asli kita, padahal sebenarnya itu hanya pandangan orang lain. Kita mulai mengambil keputusan, memilih pekerjaan, bahkan membentuk hubungan berdasarkan label itu, bukan berdasarkan siapa diri kita yang sebenarnya. 2. Biksu Jay Shetty pernah mengalami hal ini. Sebagai remaja di London, ia hidup di tengah budaya yang menilai kesuksesan dari uang, penampilan, dan popularitas. Ia berusaha menyesuaikan diri—berpakaian sesuai tren, berbicara seperti yang diharapkan teman-temannya, mengejar hal-hal yang dianggap “keren”. Tapi di dalam hati, ada rasa hampa. Ia sadar sedang memainkan peran yang tidak mencerminkan nilai-nilainya. 3. Mengenali peran yang salah itu butuh kejujuran. Kadang, kita harus bertanya: Apakah saya melakukan ini k...

Tembok yang Kita Bangun Sendiri

 *Tembok yang Kita Bangun Sendiri* Selama lima tahun terakhir, hubungan antara Pak Gunawan dan putra tunggalnya adalah sebuah keheningan yang dingin. Penyebabnya sepele: sebuah perbedaan pendapat tentang pilihan hidup, yang kemudian membesar menjadi tembok raksasa bernama gengsi. Pak Gunawan merasa sebagai ayah ia harus dihormati, dan ia memilih untuk terus memelihara rasa tersinggungnya sebagai bentuk harga diri. "Biarkan saja dia yang datang minta maaf duluan," begitu selalu ucapnya setiap kali istrinya membujuk untuk berdamai. Pak Gunawan merasa "benar" dengan kemarahannya. Ia merasa amarahnya adalah haknya. Suatu sore, Pak Gunawan sedang duduk di taman depan rumahnya ketika seorang tetangga baru, seorang pemuda yang tampak selalu ceria, menghampirinya untuk meminjam gunting rumput. Pemuda itu bernama Rian. "Tumben sendirian saja, Pak? Anak-anak nggak mampir?" tanya Rian sambil tersenyum tulus. Pak Gunawan mendengus, "Anak sekarang susah diatur. Sa...

Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan*

 *Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan* Kala  adalah tipe pria energik yang mengukur harga dirinya dari kecepatan geraknya. Di kantor, ia dikenal sebagai "mesin". Bossnya sangat menyukai karena geraknya yang cepat dan penuh inisiatif. Di rumah, ia adalah sosok yang selalu menatap layar laptop bahkan saat makan malam. Baginya, setiap detik adalah transaksi. Jika tidak menghasilkan uang atau progres, maka itu sia-sia. Suatu sore, karena hujan badai, Kala terpaksa berteduh di sebuah kafe kopi yang kecil dan terpencil. Ia duduk di pojok, membuka tabletnya, dan mulai mengetik dengan gusar karena sinyal internet yang buruk. "Permisi, Nak. Ini kopinya," seorang kakek tua pemilik kedai meletakkan secangkir kopi hitam di mejanya. Kala mendongak ketus, "Maaf Pak, saya belum pesan. Saya baru saja datang untuk numpang berteduh." Si kakek tersenyum tenang, tidak memindahkan kopi yang sudah diletakkan di hadapan Kala, malah berkata, "Saya tahu. Tapi dari tadi say...