Posts

7 kekayaan Mulia

 Kemiskinan adalah Dukha : Makanya orang Buddhist tidak boleh miskin harus kaya.  Kekayaan adalah kebahagiaan di dunia karena ini adalah kehidupan. Dalam kehidupan duniawi kita masih butuh Harta, tahta, cinta. Kekayaan adalah jalan untuk mencapai 3 freedom yaitu : Financial Freedom ini adalah kebebasan dari rasa kekurangan. Kebebasan dari segi keuangan. Tidak kekurangan uang. Uang berlebihan, ingin ini ingin itu ada uangnya. Uang bukan segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang. Uang tidak bisa membeli kesehatan tapi bayangkan kalau sakit tidak punya uang ya pergi mati saja kau. Semua kebutuhan, bisa di dapat dengan uang. Dengan uang kita bisa membuat sistem dan memperoleh time freedom Time Freedom : Time freedom adalah kebebasan dari waktu. Tapi bukan berarti kita bersantai sepanjang segala abad. Tapi kia bisa menantukan sendiri kapan waktu kita bekerja kapan waktu untuk beristirahat. Tapi bila orang yang mentalnya belum kuat. Time freedom ini akan di gunakan untuk bermala...

Meditasi VS Instrospeksi

(disclaimer dulu ya, kita di sini sama2 belajar, jadi saya tdk bermaksud 'menggurui'). Meditasi' =/= Introspeksi. Meditasi dari perspektif Tergar = Kesadaran, maksudnya kita mengetahui apa yg sedang kita lakukan, apa yg sedang kita pikir, yg sedang kita rasa. Kata kuncinya di sini adl MENGENALI.  Contoh: kita baca chat WA ini, klo kita mengetahui ada objek berupa huruf, kita mengetahui sedang melihat, mk itu adl meditasi. Di sini kita tdk menilai atau tdk mengartikan apa yg kita baca-non judgement.  Tapi pada saat kita 'melakukan introspeksi' beda lagi.  Contoh: sambil atau setelah baca chat WA ini, kita melakukan 'introspeksi'. Di sini ada unsur memaknai, menilai, dan menimbang.  Namun, selama kita melakukan itu semua dengan sadar dan jg mengetahui apa yg sedang terjadi dg diri kita (apakah kita sedang baca, sedang memaknai, sedang mikir, dsb)...mk kegiatan introspeksi tadi berubah dari introspeksi 'non meditasi' menjadi introspeksi 'dengan medi...

Berpikir seperti sangha

 BERPIKIR SEPERTI SANGHA ~ Jay Shetty LEPASKAN LABEL PALSU 1. Sejak kecil, kita dibentuk oleh label yang ditempelkan orang lain. Ada yang dipuji sebagai anak pintar, ada yang dikenal pendiam, ada yang disebut nakal. Lama-lama, label itu terasa seperti identitas asli kita, padahal sebenarnya itu hanya pandangan orang lain. Kita mulai mengambil keputusan, memilih pekerjaan, bahkan membentuk hubungan berdasarkan label itu, bukan berdasarkan siapa diri kita yang sebenarnya. 2. Biksu Jay Shetty pernah mengalami hal ini. Sebagai remaja di London, ia hidup di tengah budaya yang menilai kesuksesan dari uang, penampilan, dan popularitas. Ia berusaha menyesuaikan diri—berpakaian sesuai tren, berbicara seperti yang diharapkan teman-temannya, mengejar hal-hal yang dianggap “keren”. Tapi di dalam hati, ada rasa hampa. Ia sadar sedang memainkan peran yang tidak mencerminkan nilai-nilainya. 3. Mengenali peran yang salah itu butuh kejujuran. Kadang, kita harus bertanya: Apakah saya melakukan ini k...

Tembok yang Kita Bangun Sendiri

 *Tembok yang Kita Bangun Sendiri* Selama lima tahun terakhir, hubungan antara Pak Gunawan dan putra tunggalnya adalah sebuah keheningan yang dingin. Penyebabnya sepele: sebuah perbedaan pendapat tentang pilihan hidup, yang kemudian membesar menjadi tembok raksasa bernama gengsi. Pak Gunawan merasa sebagai ayah ia harus dihormati, dan ia memilih untuk terus memelihara rasa tersinggungnya sebagai bentuk harga diri. "Biarkan saja dia yang datang minta maaf duluan," begitu selalu ucapnya setiap kali istrinya membujuk untuk berdamai. Pak Gunawan merasa "benar" dengan kemarahannya. Ia merasa amarahnya adalah haknya. Suatu sore, Pak Gunawan sedang duduk di taman depan rumahnya ketika seorang tetangga baru, seorang pemuda yang tampak selalu ceria, menghampirinya untuk meminjam gunting rumput. Pemuda itu bernama Rian. "Tumben sendirian saja, Pak? Anak-anak nggak mampir?" tanya Rian sambil tersenyum tulus. Pak Gunawan mendengus, "Anak sekarang susah diatur. Sa...

Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan*

 *Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan* Kala  adalah tipe pria energik yang mengukur harga dirinya dari kecepatan geraknya. Di kantor, ia dikenal sebagai "mesin". Bossnya sangat menyukai karena geraknya yang cepat dan penuh inisiatif. Di rumah, ia adalah sosok yang selalu menatap layar laptop bahkan saat makan malam. Baginya, setiap detik adalah transaksi. Jika tidak menghasilkan uang atau progres, maka itu sia-sia. Suatu sore, karena hujan badai, Kala terpaksa berteduh di sebuah kafe kopi yang kecil dan terpencil. Ia duduk di pojok, membuka tabletnya, dan mulai mengetik dengan gusar karena sinyal internet yang buruk. "Permisi, Nak. Ini kopinya," seorang kakek tua pemilik kedai meletakkan secangkir kopi hitam di mejanya. Kala mendongak ketus, "Maaf Pak, saya belum pesan. Saya baru saja datang untuk numpang berteduh." Si kakek tersenyum tenang, tidak memindahkan kopi yang sudah diletakkan di hadapan Kala, malah berkata, "Saya tahu. Tapi dari tadi say...

Hidup selaras - Deepak Chopra

 Hidup Selaras ~ Deepak Chopra Ikuti Alur Alam Semesta 1. Kehendak sejati berasal dari kesadaran yang lebih tinggi dalam diri kita, yang seringkali tidak terlihat di permukaan. Ini bukan tentang apa yang kita inginkan karena ego kita, melainkan tentang apa yang sesuai dengan alam semesta dan tujuan hidup kita. Coba pikirkan tentang momen-momen dalam hidupmu ketika kamu merasa sepenuhnya terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirimu. Mungkin itu ketika kamu merasa sangat puas melakukan sesuatu yang benar-benar kamu cintai, tanpa memikirkan keuntungan pribadi. Itu adalah kehendak sejati yang datang dari kesadaran batin. 2. Keinginan yang datang dari ego, di sisi lain, seringkali didorong oleh kebutuhan untuk mengonfirmasi identitas kita atau memenuhi standar sosial. Kita mungkin merasa tertekan untuk mencapai sesuatu karena orang lain mengharapkannya, atau karena kita takut akan ketidakberhasilan. Namun, ini bukan kehendak sejati. Kehendak sejati tidak terikat pada egosentris...

Pbs

 Apa jadinya jika 'InsyaaAllah' yang kita ucapkan bukan hanya harapan, tetapi sebuah perintah biokimia yang langsung dieksekusi oleh miliaran sel dalam tubuh kita?" Jika Anda merasa pertanyaan itu terdengar terlalu ajaib untuk jadi ilmiah, maka bersiaplah untuk terkejut. Riset terobosan dari Neuroscience Department, Stanford University, yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Nature, baru saja mengonfirmasi hal yang para sufi dan tabib nenek moyang kita yakini sejak lama: keyakinan itu bukan kata² kosong. Ia adalah farmakologi. Di tengah hiruk pikuk burnout culture dan kelelahan mental akibat doomscrolling, penemuan ini adalah peta penyelamat. Ia memberi kita kendali, saat dunia luar terasa nggak terkendali. --- 🔬 BAGIAN 1: TEMUAN STANFORD - OTAK ANDA ADALAH "APOTEKER PRIBADI" YANG PALING CANGGIH Tim peneliti pimpinan Prof. Dr. Tor Wager menggunakan fMRI untuk mengintip langsung ke dalam otak manusia saat mengalami efek placebo (pil gula yang dianggap obat). Has...