Tembok yang Kita Bangun Sendiri
*Tembok yang Kita Bangun Sendiri* Selama lima tahun terakhir, hubungan antara Pak Gunawan dan putra tunggalnya adalah sebuah keheningan yang dingin. Penyebabnya sepele: sebuah perbedaan pendapat tentang pilihan hidup, yang kemudian membesar menjadi tembok raksasa bernama gengsi. Pak Gunawan merasa sebagai ayah ia harus dihormati, dan ia memilih untuk terus memelihara rasa tersinggungnya sebagai bentuk harga diri. "Biarkan saja dia yang datang minta maaf duluan," begitu selalu ucapnya setiap kali istrinya membujuk untuk berdamai. Pak Gunawan merasa "benar" dengan kemarahannya. Ia merasa amarahnya adalah haknya. Suatu sore, Pak Gunawan sedang duduk di taman depan rumahnya ketika seorang tetangga baru, seorang pemuda yang tampak selalu ceria, menghampirinya untuk meminjam gunting rumput. Pemuda itu bernama Rian. "Tumben sendirian saja, Pak? Anak-anak nggak mampir?" tanya Rian sambil tersenyum tulus. Pak Gunawan mendengus, "Anak sekarang susah diatur. Sa...