Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan*

 *Secangkir Kopi yang Tak Pernah Dipesan*


Kala  adalah tipe pria energik yang mengukur harga dirinya dari kecepatan geraknya. Di kantor, ia dikenal sebagai "mesin". Bossnya sangat menyukai karena geraknya yang cepat dan penuh inisiatif. Di rumah, ia adalah sosok yang selalu menatap layar laptop bahkan saat makan malam. Baginya, setiap detik adalah transaksi. Jika tidak menghasilkan uang atau progres, maka itu sia-sia.


Suatu sore, karena hujan badai, Kala terpaksa berteduh di sebuah kafe kopi yang kecil dan terpencil. Ia duduk di pojok, membuka tabletnya, dan mulai mengetik dengan gusar karena sinyal internet yang buruk.

"Permisi, Nak. Ini kopinya," seorang kakek tua pemilik kedai meletakkan secangkir kopi hitam di mejanya.

Kala mendongak ketus, "Maaf Pak, saya belum pesan. Saya baru saja datang untuk numpang berteduh."


Si kakek tersenyum tenang, tidak memindahkan kopi yang sudah diletakkan di hadapan Kala, malah berkata, "Saya tahu. Tapi dari tadi saya lihat kamu seperti terburu-buru dan berlari sangat kencang, padahal kamu cuma duduk di kursi itu. Minumlah, supaya jiwamu punya waktu untuk mengejar tubuhmu."


Kala tertegun. Ia ingin membantah, tapi kalimat kakek itu terasa seperti tamparan yang lembut. Si kakek duduk di kursi seberangnya, tidak bermaksud mengganggu, hanya menatap rintik hujan.

"Dulu saya seperti kamu," lanjut si kakek tanpa menoleh. "Saya membangun tiga pabrik. Saya merasa sangat penting sampai saya tidak punya waktu untuk melihat warna mata anak saya. Suatu hari, anak saya mendapat tugas sekolah untuk menggambar foto rumah dan keluarga. Dia menggambar neneknya, kakeknya, adiknya, dan seekor kucing. Saya dan istri tidak ada di gambar itu. Katanya, “Ayah sama Ibu kan selalu di kantor."


Kakek itu menyesap kopinya sendiri. "Malam itu saya sadar, saya sibuk membangun dunia untuk mereka, tapi saya lupa menjadi bagian dari dunia mereka. Saya sukses menjadi pengusaha, tapi saya gagal menjadi manusia."


Kala terdiam. Ia melihat pantulan wajahnya di layar tablet yang masih menyala—menampilkan deretan angka produksi tim penjualannya dan email pekerjaan. Tiba-tiba semua angka itu terasa hambar. Ia teringat istrinya yang tadi pagi ingin bercerita sesuatu namun ia potong karena ia "sedang sibuk". Ia teringat anaknya yang jarang ia peluk karena ia selalu "lelah".


"Siapa nama kamu, Nak?" tanya kakek itu.

Kala membuka mulut, ingin menyebutkan jabatannya sebagai "Direktur", tapi lidahnya kelu. Ia menyadari bahwa di luar jabatannya, ia hampir tidak tahu lagi siapa dirinya.

"Kala," akhirnya dia menjawab lirih.


"Nama yang bagus dan penuh arti. Temuilah Kala yang asli malam ini. Jangan cuma bawa pulang uang, bawalah dirimu pulang ke rumah."


Hujan mulai reda. Kala menutup tabletnya—untuk pertama kali dalam lima tahun ia mematikan perangkat itu sebelum jam kerja usai. Ia meninggalkan uang di meja, bukan sebagai bayaran kopi, tapi sebagai rasa terima kasih karena telah "dilihat" kembali sebagai manusia.


Ia pulang malam itu dengan perlahan. Ia tidak ingin lagi berlari. Ia hanya ingin sampai ke rumah, memeluk keluarganya, dan menemukan kembali sosok Kala yang selama ini tertinggal di balik tumpukan berkas kantor.

Comments

Popular posts from this blog

Malu

7

Power of now