Tembok yang Kita Bangun Sendiri

 *Tembok yang Kita Bangun Sendiri*


Selama lima tahun terakhir, hubungan antara Pak Gunawan dan putra tunggalnya adalah sebuah keheningan yang dingin. Penyebabnya sepele: sebuah perbedaan pendapat tentang pilihan hidup, yang kemudian membesar menjadi tembok raksasa bernama gengsi. Pak Gunawan merasa sebagai ayah ia harus dihormati, dan ia memilih untuk terus memelihara rasa tersinggungnya sebagai bentuk harga diri.


"Biarkan saja dia yang datang minta maaf duluan," begitu selalu ucapnya setiap kali istrinya membujuk untuk berdamai. Pak Gunawan merasa "benar" dengan kemarahannya. Ia merasa amarahnya adalah haknya.

Suatu sore, Pak Gunawan sedang duduk di taman depan rumahnya ketika seorang tetangga baru, seorang pemuda yang tampak selalu ceria, menghampirinya untuk meminjam gunting rumput. Pemuda itu bernama Rian.


"Tumben sendirian saja, Pak? Anak-anak nggak mampir?" tanya Rian sambil tersenyum tulus.

Pak Gunawan mendengus, "Anak sekarang susah diatur. Saya lebih baik sendiri daripada bicara sama orang yang nggak tahu cara menghargai orang tua."


Rian terdiam sebentar, lalu duduk di kursi sebelah Pak Gunawan. "Bapak tahu? Dulu saya punya dendam yang luar biasa pada ayah saya. Kami tidak bicara selama tujuh tahun karena saya merasa dia terlalu keras pada saya. Saya merasa benar dengan kebencian saya. Saya merasa dia 'berhutang' permintaan maaf pada saya."

Pak Gunawan menoleh, merasa menemukan teman senasib. "Lalu? Dia akhirnya minta maaf?"


Rian menggeleng pelan. Matanya menatap kejauhan. "Dua bulan lalu, saya dapat telepon. Ayah saya masuk rumah sakit karena serangan jantung mendadak. Saya lari ke sana, membawa semua kalimat 'benar' yang ingin saya lemparkan ke wajahnya. Saya ingin dia tahu betapa dia salah selama ini."


Suara Rian mulai bergetar. "Tapi saat saya sampai, yang saya temukan hanya sebuah monitor yang berbunyi datar. Ayah saya sudah tidak ada. Di samping tempat tidurnya, ada sebuah buku catatan kecil. Isinya cuma satu baris yang ditulis setiap hari: 'Semoga hari ini Rian telepon. Ayah kangen.'"


Rian menatap Pak Gunawan dengan mata yang berkaca-kaca. "Sore itu saya sadar, Pak. Ternyata kemenangan saya dalam mempertahankan ego adalah kekalahan terbesar dalam hidup saya. Saya menang karena saya 'benar', tapi saya kehilangan kesempatan untuk memeluknya sekali lagi. Sekarang saya punya semua kebenaran itu, tapi saya tidak punya ayah."


Rian berdiri, mengembalikan gunting rumput itu. "Jangan sampai Bapak menang melawan anak sendiri, tapi kalah melawan waktu. Karena waktu tidak pernah peduli siapa yang benar dan siapa yang salah."


Rian pergi, meninggalkan Pak Gunawan yang terpaku. Tembok raksasa yang ia bangun selama lima tahun itu tiba-tiba terasa sangat rapuh. Ia menatap ponselnya di atas meja. Rasa benar yang selama ini ia agungkan tiba-tiba terasa hambar, bahkan pahit.


Ia menyadari bahwa selama ini ia tidak sedang mempertahankan harga diri, ia hanya sedang membuang-buang waktu yang sangat terbatas untuk sesuatu yang tidak akan ia bawa mati.


Sore itu, dengan tangan yang sedikit bergetar, Pak Gunawan mulai mengetik pesan singkat. Bukan untuk menuntut permintaan maaf, tapi sebuah kalimat yang sudah lima tahun ia simpan di balik labirin amarahnya: _"Nak, Ayah di rumah. Ada waktu untuk ngopi sore ini?"_


jadi kesadaran apa yang teman2 dapatkan dari cerita pak gunawan dan rian diatas ? share disini yuk 🙏🏻🌈🤣


semoga hati yang penuh kebencian dan kemarahan yang sedang membangun tembok tinggi menemukan kesadaran dan kebahagiaan 🙏🏻🌈🤣💗💚💜

Comments

Popular posts from this blog

Malu

7

Power of now