Bagaimana tau ajaran yg benar
Bagaimana tahu ajaran yang Benar? (1)
KEBEBASAN UNTUK RAGU.
Beberapa penganut agama berusaha menyembunyikan pengikutnya; mereka tidak diperbolehkan menyentuh benda atau buku keagamaan lainnya. Mereka diperintahkan untuk tidak mendengarkan dakwah agama lain. Mereka diperintahkan untuk tidak meragukan ajaran agamanya, betapapun tidak meyakinkannya ajaran mereka. Semakin mereka menjaga agar pengikutnya tetap berpikiran satu arah, semakin mudah mereka mengendalikan pengikutnya. Jika ada di antara mereka yang menjalankan kebebasan berpikir dan menyadari bahwa dirinya selalu berada dalam kegelapan, maka diduga setan telah merasuki pikirannya. Orang miskin tidak diberi kesempatan untuk menggunakan akal sehat, pendidikan, atau kecerdasannya. Mereka yang ingin mengubah pandangannya tentang agama diajarkan untuk percaya bahwa mereka tidak cukup sempurna untuk diperbolehkan menggunakan kehendak bebas dalam menilai apa pun bagi diri mereka sendiri.
“Pergilah, wahai para bhikkhu, demi kebaikan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, demi belas kasihan terhadap dunia, demi manfaat, demi kebaikan, demi kebahagiaan para dewa dan manusia. Jangan biarkan dua orang terlewat dalam satu jalan. Khotbahkanlah doktrin yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya. Deklarasikan kehidupan suci dalam kesuciannya, seutuhnya baik secara liisan maupun tulisan. - Mahavagga, Vinaya Pitaka”
Dengan kata-kata di atas, Sang Buddha memprakarsai agama misionaris paling awal di dunia. Ini adalah agama misionaris dengan tujuan paling mulia, karena agama ini bukan untuk memenangkan orang demi kekuatan agama, atau demi kemuliaan makhluk apa pun, namun demi kebahagiaan dan manfaat bagi mereka yang menerima ajarannya. Sepanjang sejarahnya, agama Buddha menyebar bukan melalui penaklukan atau penjajahan melainkan secara damai melalui ajaran para pengikutnya dan teladan mulia kehidupan mereka yang hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan.
Umat Buddha tidak berusaha mempengaruhi penganut agama lain untuk datang dan memeluk agamanya demi keuntungan materi. Mereka juga tidak mencoba mengeksploitasi kemiskinan, penyakit, buta huruf dan ketidaktahuan untuk meningkatkan populasi umat Buddha. Sang Buddha menasihati mereka yang menunjukkan keinginannya untuk mengikutinya, agar tidak terburu-buru dalam menerima ajarannya namun mempertimbangkan dengan hati-hati dan menentukan sendiri apakah ajaran tersebut benar atau salah.
Bagaimana tahu ajaran yang Benar? (2)
WAWASAN PEMAHAMAN
Upali, seorang yang kaya dan ahli berdebat, saat diminta komunitasnya untuk berdebat mengalahkan Sang Buddha, yang akhirnya membuat Upali memutuskan untuk menjadi pengikut Buddha: Sekarang aku bahkan lebih senang dan puas ketika Sang Buddha berkata kepadaku: “Lakukan penyelidikan yang benar terlebih dahulu.” Karena jika penganut agama lain berhasil menjadikanku sebagai murid mereka, mereka pasti akan mengibarkan spanduk di seluruh kota yang bertuliskan: “Upali telah bergabung dengan agama kami.” Namun Sang Buddha berkata kepadaku: “Lakukan penyelidikan yang benar terlebih dahulu. Investigasi yang tepat baik untuk orang terkenal seperti Anda.” (Upali Sutta, Majjhima Nikaya)
Dalam Sutta Kalama menggambarkan suatu peristiwa ketika Sang Buddha singgah di sebuah desa untuk mengajar. Sebelumnya, beberapa guru agama lain pernah melewati desa yang sama, semuanya mengklaim bahwa agama mereka adalah satu-satunya agama yang benar. Penduduk desa, karena rasa hormatnya yang besar terhadap Sang Buddha, kemudian bertanya kepada Beliau ajaran manakah yang harus mereka terima. Sang Buddha menjawab bahwa mereka harus membuat keputusan yang dipertimbangkan setelah memikirkannya dengan matang, menggunakan alasan dan penilaian mereka sendiri. Beliau lebih mementingkan agar para pengikutnya memahami ajarannya.
“Jangan berdasarkan wahyu atau tradisi, jangan berdasarkan rumor atau kitab suci, jangan berdasarkan desas-desus atau perkiraan belaka, jangan berdasarkan bias kesukaan terhadap suatu gagasan atau kemampuan orang lain, dan jangan berdasarkan gagasan “Dia adalah guru kami”.
Tetapi ketika engkau sendiri mengetahui bahwa suatu hal adalah baik, bahwa hal itu tidak tercela, bahwa hal itu dipuji oleh para bijaksana dan ketika dilatih dan diamati maka hal itu membawa menuju kebahagiaan, maka ikutilah hal itu" (Kalama Sutta)
Ajaran Buddha tidak bersifat dogmatis. Ia juga tidak meminta orang untuk menerimanya melalui keyakinan buta. Dalam kitab suci kita terus-menerus diingatkan bahwa kita hendaknya tidak percaya begitu saja, melainkan mempertanyakan, memeriksa, menyelidiki dan bersandar pada pengalaman dan penilaian kita sendiri. Tidak ada agama lain yang berani atau mampu memberikan izin serupa kepada pengikutnya, karena dengan melakukan hal tersebut akan membuat mereka membuka pikiran dan mempertanyakan keyakinan mereka. Bagaimanapun juga, keimanan hanyalah sekedar pemahaman yang terus-menerus terhadap suatu keyakinan yang menurut akal dan logika seseorang tidaklah benar.
Sang Buddha menjunjung tinggi derajat kebebasan yang tertinggi tidak hanya dalam hakikat kemanusiaannya tetapi juga dalam sifat-sifat ketuhanannya. Ini adalah kebebasan yang tidak menghilangkan martabat manusia. Ini adalah kebebasan yang membebaskan seseorang dari perbudakan dogma, hukum agama yang diktator, dan takhayul yang sudah ketinggalan zaman.
Comments
Post a Comment