Investasi anak
*ANAK BUKAN PROYEK, TAPI BENIH*
*Orangtua sering kebakaran jenggot karena hasil anaknya, tapi lupa bahwa benih itu tumbuh sesuai tanah tempat ia ditanam.*
Kalau tanahnya penuh kritik, cemaran trauma, dan pupuk omelan—
ya jangan kaget kalau anak tumbuh seperti kaktus berduri, bukan bunga melati wangi nan ramah tamah.
Anak-anak itu ibarat cermin yang memantulkan harapan orangtua, bukan fotocopy dari standar sosial yang tidak pernah puas atas apa yang sudah diraih.
Dan ironisnya serta lucunya, banyak orangtua marah karena anaknya takut salah, padahal tiap hari mereka diperingatkan dengan kata-kata horor macam:
_“Jangan begitu nanti gagal.”_
_“Belajar dong, masa begitu aja nggak bisa?”_
_“Lihat tuh anak orang…”_
Hellooo 😏👋 Anda sehat? Huahahaha
Itu bukan kalimat motivasi. Itu *mantra kutukan* bersertifikat *SNI (Standar Ngeselin Indonesia).*
Sekarang saya mau bahas tentang *Hukum Pengharapan* yang mengatakan *Seseorang akan menjadi sesuai apa yang Anda percaya tentang dirinya*
Dalam hipnoterapi ada prinsip klasik:
*Pikiran bawah sadar bergerak menuju apa yang paling diharapkan dan dilatihkan — baik atau buruk.*
Kalau saya pribadi sering mengatakan pikiran bawah sadar itu seperti tanah yang subur apapun yang ditanamkan di tanah itu akan tumbuh entah itu bibit yang berguna seperti apel, mangga, jagung atau semak belukar liar.
Artinya?
Kalau orangtua menanam keyakinan bahwa anak “bodoh”, “bandel”, “tidak bisa dipercaya” — pikiran bawah sadar anak akan bekerja mati-matian membuktikan itu benar.
Karena *otak lebih memilih konsisten* daripada bahagia.
Tragis tapi nyata.
Sebaliknya, ketika orangtua mengirim pesan:
*“Aku percaya kamu mampu.”*
*“Aku melihat potensi kamu meski belum terlihat hasilnya.”*
*“Kesalahanmu bukan kegagalan, tapi latihan pertumbuhan.”*
Bawah sadar anak akan membuka pintu prestasi, keberanian, kreativitas, dan identitas yang kuat.
Orangtua sering salah persepsi:
Mereka ingin anak hebat,
tapi pikiran mereka penuh ketakutan.
Mereka ingin anak percaya diri,
tapi yang ditanamkan setiap hari adalah keraguan.
Mereka ingin anak sukses,
tapi yang diwariskan adalah kecemasan dan perfeksionisme nggak jelas.
Wajar kalau anak terbang tapi takut jatuh, karena orangtuanya lebih sibuk mengawasi sayap yang mungkin patah daripada memuji keberanian untuk terbang.
*Saran singkat tapi serius*
Mulai hari ini, sebelum ngomong atau menilai anak Anda, tanya ke diri sendiri:
*“Apakah ini menumbuhkan atau menghancurkan di masa depan?”*
Kalimat sederhana yang bisa mulai merombak masa depan:
“Aku percaya kamu mampu.”
“Aku di sini kalau kamu butuh bantuan.”
“Aku bangga sama prosesmu, bukan cuma hasilnya.”
*Persepsi adalah doa.*
*Pengharapan adalah hipnotis.*
*Anak adalah hasil dari sugesti orangtuanya.*
Jadi kalau mau lihat masa depan berubah, *ubah cara Anda memandang sekarang.*
Comments
Post a Comment