Keluar dari balik awan
*KELUAR DARI BALIK AWAN*
Dalam perjalanan spiritual, tidak semua langkah selalu tegap. Bahkan seorang Bhikkhu yang telah menempuh kehidupan suci pun bisa tergelincir pada kesalahan ringan (pācittiya) maupun berat (Pārājika). Namun, kesalahan bukan akhir dari kebajikan—ia bisa menjadi titik balik menuju kebijaksanaan.
“Seorang yang salah lalu memperbaiki diri, ia menerangi dunia ini seperti bulan keluar dari balik awan.”
— Dhammapada 173
Bila seseorang mengakui kesalahan dan berupaya memperbaiki diri, ia sedang menapaki kembali jalan Dhamma. Dalam hal ini, dukungan dengan welas asih (karuṇā) akan menjadi kebajikan. Namun bila seseorang menolak mengakui kesalahan dan berkeras dalam kelalaian, maka menyikapi dwngan diam tanpa membenarkan adalah bentuk kebijaksanaan (paññā).
Mendukung tidak selalu berarti memberi dana; kadang berarti memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memberi kata yang menyejukkan namun jujur, dan memberi doa yang menuntun ke arah benar adalah dana-mulia.
“Dukunglah kebajikan, bukan memojokkan kelemahan, jangan menutup hati bagi yang sedang bertumbuh.”
Hindari dua tepi ekstrem:
• Mengecam dengan kemarahan, akan menodai batin sendiri.
• Membenarkan dengan kelengahan, akan menodai Dhamma.
Berjalanlah di 'jalan tengah': dengan mettā, kita mendoakan; dengan upekkhā, kita menilai seimbang; dengan paññā, kita mendukung arah yang benar.
Ketika seseorang berani mengakui kesalahan, ia telah membuka pintu menuju kebajikan.
Tugas kita bukan mengadili, tapi menjadi saksi kebenaran, bahwa welas asih dan kebijaksanaan selalu lebih kuat dari celaan dan dendam.
“Seseorang yang jatuh lalu bangkit, adalah teladan bagi dunia yang masih belajar berjalan.”
Comments
Post a Comment