Posts

Showing posts from April, 2026

7 kekayaan Mulia

 Kemiskinan adalah Dukha : Makanya orang Buddhist tidak boleh miskin harus kaya.  Kekayaan adalah kebahagiaan di dunia karena ini adalah kehidupan. Dalam kehidupan duniawi kita masih butuh Harta, tahta, cinta. Kekayaan adalah jalan untuk mencapai 3 freedom yaitu : Financial Freedom ini adalah kebebasan dari rasa kekurangan. Kebebasan dari segi keuangan. Tidak kekurangan uang. Uang berlebihan, ingin ini ingin itu ada uangnya. Uang bukan segala-galanya tapi segala-galanya butuh uang. Uang tidak bisa membeli kesehatan tapi bayangkan kalau sakit tidak punya uang ya pergi mati saja kau. Semua kebutuhan, bisa di dapat dengan uang. Dengan uang kita bisa membuat sistem dan memperoleh time freedom Time Freedom : Time freedom adalah kebebasan dari waktu. Tapi bukan berarti kita bersantai sepanjang segala abad. Tapi kia bisa menantukan sendiri kapan waktu kita bekerja kapan waktu untuk beristirahat. Tapi bila orang yang mentalnya belum kuat. Time freedom ini akan di gunakan untuk bermala...

Meditasi VS Instrospeksi

(disclaimer dulu ya, kita di sini sama2 belajar, jadi saya tdk bermaksud 'menggurui'). Meditasi' =/= Introspeksi. Meditasi dari perspektif Tergar = Kesadaran, maksudnya kita mengetahui apa yg sedang kita lakukan, apa yg sedang kita pikir, yg sedang kita rasa. Kata kuncinya di sini adl MENGENALI.  Contoh: kita baca chat WA ini, klo kita mengetahui ada objek berupa huruf, kita mengetahui sedang melihat, mk itu adl meditasi. Di sini kita tdk menilai atau tdk mengartikan apa yg kita baca-non judgement.  Tapi pada saat kita 'melakukan introspeksi' beda lagi.  Contoh: sambil atau setelah baca chat WA ini, kita melakukan 'introspeksi'. Di sini ada unsur memaknai, menilai, dan menimbang.  Namun, selama kita melakukan itu semua dengan sadar dan jg mengetahui apa yg sedang terjadi dg diri kita (apakah kita sedang baca, sedang memaknai, sedang mikir, dsb)...mk kegiatan introspeksi tadi berubah dari introspeksi 'non meditasi' menjadi introspeksi 'dengan medi...

Berpikir seperti sangha

 BERPIKIR SEPERTI SANGHA ~ Jay Shetty LEPASKAN LABEL PALSU 1. Sejak kecil, kita dibentuk oleh label yang ditempelkan orang lain. Ada yang dipuji sebagai anak pintar, ada yang dikenal pendiam, ada yang disebut nakal. Lama-lama, label itu terasa seperti identitas asli kita, padahal sebenarnya itu hanya pandangan orang lain. Kita mulai mengambil keputusan, memilih pekerjaan, bahkan membentuk hubungan berdasarkan label itu, bukan berdasarkan siapa diri kita yang sebenarnya. 2. Biksu Jay Shetty pernah mengalami hal ini. Sebagai remaja di London, ia hidup di tengah budaya yang menilai kesuksesan dari uang, penampilan, dan popularitas. Ia berusaha menyesuaikan diri—berpakaian sesuai tren, berbicara seperti yang diharapkan teman-temannya, mengejar hal-hal yang dianggap “keren”. Tapi di dalam hati, ada rasa hampa. Ia sadar sedang memainkan peran yang tidak mencerminkan nilai-nilainya. 3. Mengenali peran yang salah itu butuh kejujuran. Kadang, kita harus bertanya: Apakah saya melakukan ini k...