Kasihilah musuhmu seperti engkau mengasihi temanmu

"Kasihilah musuhmu seperti engkau mengasihi temanmu"


Nasihat di atas sering kita dengar tapi sangat sulit dilakukan mungkin karena kita tidak tau alasan ungkapan di atas. Musuh kita adalah guru kita.


"Lho kok musuh kita adalah guru kita? Saya lebih baik daripada orang itu. Masak saya harus mencontoh sikapnya yang buruk itu?" pertanyaan ini mungkin sering terlontar. Jawabannya adalah "TIDAK".


"Lha terus apa yang harus kita pelajari dari musuh kita?" Bila orang lain menyebalkan dan membuat kita marah, di situ kita diajarkan untuk sabar. Bila orang lain membohongi kita, berarti orang itu mengajari kita untuk jujur. Kita belajar diam dari yang cerewet


"Kalau begitu kenapa kita harus tidak belajar dari orang baik saja?" Kita belajar yang baik dari yang buruk. Bila tidak ada yang buruk tidak mungkin ada yang baik bukan.


"Jadilah Terang Dunia". Kegelapan akan terlihat lebih gelap bila ia ada dalam terang dan Sinar akan terlihat lebih terang bila dia berada dalam kegelapan. Coba nyalakan lilin di siang hari apakah lilin itu bakalan menyala seterang kalau kita menyalakannya saat malam hari?


Karena itulah kita harus mengasihi musuh kita karena dari dia kita akan lebih tampak terang. Yah ini semua memang tidak mudah dilakukan dan saya juga masih terus berusaha melakukannya meskipus sering kali saya gagal melakukannya. saya lebih sering terbawa emosi.


"Jadilah Garam Dunia". Sebagai garam harus bisa memberi rasa dan harus bisa berinteraksi dengan bumbu lainnya seperti gula, dll. Jadi bila kita harus jadi garam dunia harus bisa memberi pengaruh pada dunia bersama-sama dengan orang lain.


Sebagai murid kita harus seperti gelas. Agar gelas dapat menerima air maka gelas itu harus :

1. Terbuka

hanya dengan pikiran terbuka dan memiliki keingintahuan serta rasa penasaran yang besar. Kita akan mendapat sangat banyak ilmu. Coba bayangkan bagaimana cara mengisi air dalam gelas kalau gelas tersebut tertutup?


2. Gelas harus kosong

Hilangkan persepsi-persepsi di masa lalu Jangan menghakimi dan mendebat guru kita. Dengan pengetahuan dan persepsi yang kita punya di masa lalu


3. Gelas harus lebih rendah dari sumber air

Bersikaplah rendah hati, menyadari banyak kekurangan. Karena mengetahui bahwa kita tidak tahu adalah suatu kebijaksanaan.


3 sifat air yang harus kita contoh

1. Menempati dari tempat yang rendah

Setinggi apapun jabatan kita. Kita harus tetap rendah hati pada siapapun

2. Lembut

Air meskipun lembut tapi dapat meretakkan batuan di bawahnya. kita dapat melakukan dan menaklukan apapun dengan kelembutan, dilandasi oleh kasih

3. Berguna

Kita harus memanfaatkan kehidupan ini dengan hal-hal yang berguna untuk diri kita dan orang lain


Saat kita sudah dapat belajar dengan baik, mengasihi musuh seperti mengasihi teman maka saat itu kita sudah tidak bisa memaafkan orang lain, dan kemungkinan hati kita akan menjadi damai


"Kok bisa, bukannya kita akan makin mudah memaafkan orang lain?" Jawabnya "TIDAK". Saat kita bisa memaknai ulang kejadian yang dahulu dapat membuat kita marah, Seperti kata Pak Gobind dulu saat dia di klakson orang saat lampu sudah hijau dia langsung dongkol serasa orang yang mengklakson berkata "Woi jalan lamban amat to?", namun sekarang dia merasa orang itu mengklakson serasa berkata "hai teman lampu sudah hijau ayo jalan". Dia akan merasa tidak tersakiti. Dan kalau tidak ada seorangpun tidak dapat menyakiti hati apakah masih bisa kita memaafkan orang?

Bukankah ada orang bilang "Untuk apa saya meminta maaf kalau saya tidak salah".


Bila tidak ada orang yang dapat melakukan kesalahan terhadap kita apa masih bisa kita memaafkan orang. "Untuk apa memaafkan orang toh orang itu tidak salah"


Daftar Pustaka

Happiness Inside karya Gobind Vashdev

Comments

Popular posts from this blog

Malu

7

Power of now