Review film Inside out
Cerita film Inside out ini bagus sekali untuk menjelaskan tentang pikiran, dan perasaan seseorang.
Saat orang baru lahir dia belum mempunyai perasaan akhirnya dia punya perasaan senang (joy), sad (kesedihan), anger (marah), disgust (jijik), fear (takut). Meskipun yang terlihat dominan joy tapi ada kalanya orang boleh dan perlu menunjukkan perasaan sad untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Saat orang tidak bisa mengekspresikan sad, untuk menunjukkan joy pun juga susah meskipun masih bisa. Tapi perasaan yang seringkali muncul malah anger, disgust, dan fear yang membuatnya menjadi lebih aneh. Ada saatnya untuk memunculkan sad. Emosi ini di dapat secara alami,
Joy ini selalu optimis, ceria dia dapat memunculkan hayalan yang menggembirakan berbeda dengan anxiety yang memunculkan gambaran menakutkan. Meskipun kenyataan tak seindah hayalan. itulah yang membuat kekecewaan dan kadang sad dibutuhkan. Dan sad ditahan dan didominasi joy. otak bakalan error. Saat ada joy disitu ada sad yang ditekan, dan setelah riley bisa mengekspresikan sad disana joy makin bersinar.
Emosi-emosi ini bekerja dalam pikiran bawah sadar, mereka mengamati semua prilaku setiap manusia dan menentukan emosi apa yang sebaiknya diekspresikan. Menentukan apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemilih pikiran ini. Namun seringkali pengalaman yang tidak mengenakan dibuang ke tempat terjauh gudang pikiran.
Saat orang mulai tidak peduli dengan ingatannya ingatan itu akan berdiam di dasar memorynya dan seakan menghilang.
ketakutan kita membangunkan kita dari mimpi
Core memory adalah memori inti yang ada di ingatan. memory yang paling melekat. saat joy dan sad menghilang. core memory langsung padam dan yang tersisa apapun akan membuat marah, takut, jijik.
Setiap akan tidur semua pengalaman ini oleh pikiran dipindah ke gudang pikiran.Pengalaman yang dirasa mengganggu dan tidak mengenakan dibuang jauh-jauh di gudang pikiran terjauh, yang menurut pikiran menyenangkan diingat untuk dijadikan karakter, jati diri.
Pikiran sadar tidak sadar tentang lingkungan sekitar, tapi dari pikiran bawah sadar bisa mengamati orang sekitar, melalui ekspresinya. dan memunculkan reaksi dan emosi tertentu
Saat masa pubertas perasaan lebih beragam ada envy (iri), anxiety (cemas, ennui (perasaan bosan, tak bersemangat, malas), dan embrassment (malu). Emosi ini didapat karena pengaruh lingkungan. Saat pubertas ini pikiran sudah malas untuk berekspresi joy, sad, anger, disgust, fear. makanya joy, sad, anger, disgust, fear sudah dibuang ke gudang pikiran. perasaan itu dikurung. Meskipun ingin mengekspresikannya tapi kan orang dewasa jarang mengekspresikan emosi joy, sad, anger, disgust and fear lagi.
anxiety mulai mendominasi dan membuatnya memberikan yang terbaik, namun anxiety seringkali memunculkan gambaran yang negatif tentang masa depan, membuang kenangan masa lalu, membuat diri merasa kurang. bahkan orang bisa membuang jati dirinya, sifatnya, kesukaannya di masa lalu, dia mengingkari dirinya, ingin diterima lingkungan.
Namun kesedihan tidak bisa ditahan di dasar pikiran, kesedihan masih bisa menampakkan diri, meskipun disembunyikan. Rasa malu seringkali menyembunyikan kesedihan.
Lalu memory-memory yang dianggap tidak enak dan dibuang ke sudut terjauh pikiran, serta emosi-masa kecil yang sudah ditinggalkan, ditambah kecemasan berlebihan bisa menyebabkan ledakan emosi yang sangat dahsyat.
Barulah saat bisa menerima semua emosi dan mendamaikannya kehidupan dan pikiran bisa terkontrol dengan baik.
Oh iya ada yang sadar tidak emosi negatif lebih banyak daripada yang positif. Jadi emosi negatif itu lebih melindungi kita dan membuat kita hati-hati. Mereka juga harus diterima untuk melengkapi emosi positif biar lebih bersinar



Comments
Post a Comment