Manggala Sutta : tentang berkah utama (4)
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (76)
~ Luang Por Dettajaevo
BERKAH KE 34:
MENCAPAI NIBBANA.
Ketika api kemelekatan, kebencian dan ketidak-tahuan telah padam, keterbebasan dari kelahiran (Nibbana) telah tercapai dan menyatu dalam keTuhanan.
Tujuan utama manusia adalah untuk bebas dari penderitaan, untuk mencapai Nibbāna telah menjadi bahan perdebatan selama ribuan tahun. Poin utama perdebatan menyangkut karakteristik Nibbāna apakah itu sifat 'diri' ('atta', entitas sejati), atau 'non-diri' (‘anattā ', bukan entitas sejati).
Masalah ini telah ada sepanjang sejarah perkembangan agama Buddha. Bahkan di masa sekarang, masih ada beberapa akademisi dari Barat dan Timur yang masih memperdebatkan masalah ini.
Berbeda dengan subjek yang bersifat duniawi di mana orang dapat melihat, menyentuh atau merasakannya, Nibbāna adalah sesuatu yang tidak konkret yang tidak dilihat, disentuh atau dialami oleh orang biasa. Hanya para Arahat yang memiliki pengalaman tersebut. Beberapa bahkan mengatakan bahwa Nibbāna adalah sesuatu yang berada di luar kekuatan akal pikiran dan kata-kata. Ini pada dasarnya benar, karena kata-kata tidak dapat mengungkapkan apa yang tidak diketahui pikiran. Sifat alami pengalaman tidak dapat diungkapkan melalui kata-kata atau komunikasi. Ini berlaku untuk semua pengalaman, apakah itu pengalaman mencicipi cabai, durian, atau pengalaman berenang pertama Anda di laut. Sangat tidak mungkin untuk menggambarkan secara akurat kepada seseorang yang belum pernah makan atau melakukannya. Masalah yang sama dihadapi ketika mencoba menjelaskan pengalaman mengenai Nibbana.
Nibbāna adalah keadaan supra-duniawi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan melampaui ruang dan waktu. Untuk memahami seperti apa sebenarnya Nibbāna, Anda harus mengalaminya sendiri, sama seperti untuk mengetahui seperti apa durian itu, Anda harus memakannya. Demikian pula, kita harus mengalami akhir dari penderitaan bagi diri kita sendiri untuk memahami Nibbāna.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (77)
~ Luang Por Dettajaevo
APA ITU NIBBANA?
Buddha mengajarkan: Padamnya keserakahan, kebencian dan kebodohan, itulah Nibbāna.
Kata Nibbāna (dari Bahasa Pali) memiliki banyak sekali makna. Nibbāna dapat diterjemahkan sebagai 'memadamkan', atau 'melepaskan'. Pengertian Nibbāna sebagai 'memadamkan' berarti memadamkan kekotoran batin atau penderitaan. Sementara yang dimaksud Nibbāna berarti 'melepaskan' adalah melepaskan diri dari jeratan tiga kelompok alam kelahiran Alam Inderawi (Kama-Bhumi), Alam Materi (Rupa-Bhumi) dan Alam Tanpa Materi (Arupa-Bhumi) (Lihat Berkah 32)
Nibbāna tidak dapat dipahami melalui pengalaman indera atau oleh pikiran yang menggunakan konseptual biasa; Nibbāna tentu saja tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Melakukannya sama dengan mencoba menggambarkan warna merah untuk orang buta. Hal ini sepenuhnya berada di luar jangkauan akal normal kita. Salah satu kesalahpahaman klasik adalah melihat Nibbāna sebagai semacam ketiadaan. Kesalahpahaman lain adalah membayangkan Nibbāna sebagai surga di mana semua umat yang baik pergi. Akan tetapi, secara universal disepakati bahwa Nibbāna adalah kondisi kebahagiaan tertinggi, di mana tidak ada penderitaan yang dapat mengusiknya. Ini juga berarti kondisi bahagia dari pencerahan, “tempat” di mana para Buddha dan Arahant pergi untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Pada tingkat duniawi, ini dapat berarti keadaan pikiran di mana keinginan, kekotoran batin, dan keinginan telah punah. Dari sudut pandang metafisika, Nibbāna adalah pembebasan total dari penderitaan. Dari sudut pandang psikologis, Nibbāna adalah ketiadaan egoisme. Dari sudut pandang etika, Nibbāna adalah penghancuran nafsu, kebencian, dan kebodohan.
Ada dua jenis Nibbāna menurut waktu pencapaiannya: Nibbāna di kehidupan ini dan Nibbāna setelah kematian.
- Nibbāna di kehidupan ini (Sa–upadisesa Nibbanadhatu): Ini adalah Nibbāna yang dapat dialami saat seseorang masih hidup. Dengan kata lain, kita tidak harus mati dulu dan dilahirkan kembali untuk mencapainya. Dalam bentuk Nibbāna ini kehidupan fisik seseorang berlanjut, tetapi keadaan pikiran terbebas dari kekotoran batin. Nibbāna ini dapat dicapai melalui pengalaman meditatif ketika kita telah memurnikan pikiran kita dari semua kekotoran batin dan mencapai tingkat penyerapan yang transendental. Ini adalah kondisi meditasi yang dikenal sebagai pencapaian Kebuddhaan atau Tubuh Pencerahan (Dhammakaya).
- Nibbāna setelah kematian (Anupadisesa Nibbanadhatu): Ini adalah dimensi atau "tempat" di mana mereka yang pikirannya telah terbebas dari kekotoran batin dapat pergi untuk mendapatkan kebahagiaan sejati mereka setelah meninggal dunia. Hal ini dialami oleh orang-orang yang sepenuhnya memadamkan kekotoran batin, seperti Buddha atau Arahat, di mana sisa-sisa terakhir kehidupan fisik (kelompok unsur kehidupan) lenyap, dan tidak ada kelahiran kembali. Nibbāna ini berada di luar tiga kelompok alam kehidupan dan bersifat transendental.
Tanpa memahami perbedaan di atas, semakin banyak Anda membaca tentang Nibbāna di buku teks, Anda akan semakin bingung. Sebagian besar buku teks didasarkan pada interpretasi teks lama, bukan dari pengalaman. Mereka yang menafsirkan dari tulisan suci tetapi tidak berlatih meditasi dapat membawa kebingungan bagi orang lain. Dalam mengejar kebahagiaan abadi, Anda tidak perlu terlalu khawatir tentang interpretasi teknis tentang makna dan karakteristik Nibbāna. Sebaliknya, Anda harus mementingkan praktik.
SUTA TENTANG BERKAH UTAMA (78)
~ Ludsg Por Dettajaevo
APAKAH HARUS MENJADI UMAT BUDDHA UNTUK MENCAPAI NIBBANA?
Nibbāna tidak diperuntukkan khusus untuk umat Buddha. Latihan untuk mencapai Nibbāna mampu dimiliki semua orang. Siapa pun yang memiliki pemahaman yang benar, pengetahuan yang benar, dan praktik yang benar dapat mencapainya. Nibbāna tidak diciptakan tetapi dicapai. Nibbāna bisa dicapai dalam kehidupan ini sendiri. Banyak individu, dulu dan sekarang, telah mencapai Nibbāna.
Nibbāna merupakan cita-cita tertinggi dan terpenting bagi umat manusia. Buddhisme dimulai dari pencerahan Sang Buddha dan berakhir dengan pencerahan manusia. Tujuan dari Agama Buddha adalah untuk setiap manusia dan semua makhluk tercerahkan. Siapapun yang dapat mengumpulkan kebajikan seperti Sang Buddha atau Arahat, dapat mengikuti jejak-Nya, menuju Nibbāna. Tidaklah sebuah keharusan untuk hidup menyendiri menjadi pertapa untuk menyadari Nibbāna.
BAGAIMANA MENCAPAI NIBBANA
Nibbāna bukanlah mitos. Mencapai Nibbāna berada dalam jangkauan semua orang. Prinsip-prinsip untuk mencapai Nibbāna diringkas menjadi tiga praktik dasar yang dibawa ke kesempurnaan: moralitas (sila), perkembangan mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna). Jaga sila Anda murni untuk menahan kekotoran agar tidak terkendali. Renungkan sampai Anda mencapai kondisi pikiran transendental yang bebas dari segala ketidakmurnian. Kembangkan kebijaksanaan sampai Anda mencapai pemahaman mendalam tentang realitas kehidupan.
Salah satu prasyarat yang perlu dipenuhi adalah pemahaman penuh mengenai penderitaan, keinginan dan kekotoran batin yang membawa penderitaan harus ditinggalkan dan Jalan Mulia Berunsur Delapan harus dikembangkan. Jalan Mulia Berunsur Delapan: 'pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, tindakan benar, mata pencaharian benar, usaha benar dan perhatian benar' harus dilatih terus menerus hingga sempurna. Kedelapan jalan ini dirancang untuk memusnahkan kekotoran batin yang menjadi sumber penderitaan.
Meditasi dan Jalan Mulia Berunsur Delapan berjalan beriringan. Ketika meditasi Anda dipraktikkan dengan sempurna, Jalan Mulia Berunsur Delapan akan sepenuhnya dipahami. Dan ketika Jalan Mulia Berunsur Delapan dikembangkan sepenuhnya, pencapaian meditasi Anda akan menjadi nyata.
Berlatih meditasi sampai Anda mencapai tingkat penyerapan tertinggi yang dikenal sebagai pencapaian Kebuddhaan atau Dhammakaya. Dhammakaya, atau dikenal sebagai Tubuh Pencerahan, adalah esensi spiritual yang ada di semua makhluk. Melalui mata batin Dhammakaya, Anda akan dapat "melihat" Empat Kebenaran Mulia dan Jalan yang mengarah pada akhir penderitaan. Kembangkan kebajikan-kebajikan Anda sampai kesemqpurnaan. Ketika semua ini dilakukan, Nibbāna akan berada dalam jangkauan Anda.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (79)
~ Luang Por Dettajaevo
BERKAH KE 35:
TIDAK TERGODA OLEH HAL-HAL DUNIAWI.
Selalu ada cahaya di ujung terowongan. Semakin gelap, semakin dekat dengan cahaya.
Hidup kita penuh dengan ketidakpastian. Adalah hal yang alami jika kehidupan kita di dunia selalu berganti, baik atau buruk. Hal-hal baik dan buruk bisa terjadi pada semua orang. Inilah ciri-ciri kehidupan yang tidak bisa dihindari siapa pun. Ada masa-masa dalam kehidupan kita di mana semua hal baik tampaknya terjadi pada kita. Ada juga periode-periode dalam kehidupan kita di mana kemalangan tampaknya datang kepada kita secara bertubi-tubi. Keadaan yang tidak menguntungkan seperti kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, sakit, atau merusak mobil, adalah wajar terjadi kepada semua orang. Ini adalah periode yang harus Anda lalui, bukan hindari.
TIGA KARAKTERISTIK KEBERADAAN/ TIGA CORAK UMUM
Segala sesuatu di dunia memiliki karakteristik. Panas, misalnya, adalah karakteristik dari api, bukan air. Panas adalah hal yang alami dan berhubungan dengan api. Kita memahami bahwa api adalah panas dan berpotensi bahaya. Api dapat membakar dan merusak benda-benda. Namun api juga memiliki manfaat. Kita dapat memasak makanan kita atau memanaskan tubuh dengan api. Karakteristik dari panas memberi tahu kita apakah api itu dan apa yang dapat kita lakukan dengan api.
Contoh lainnya, emas memiliki karakteristik bahwa ketika ia murni, emas akan memiliki warna kuning dan bersinar. Besi adalah logam yang keras namun mudah berkarat. Merkuri adalah logam yang berat, dsb. Ini adalah beberapa contoh kualitas dari material tertentu.
Manusia juga memiliki karakteristik sendiri, mereka dapat bergerak, berpikir, berbicara dan merasakan, Namun walaupun semua di dunia ini berbeda, semua benda, makhluk hidup dan fenomena mental, memiliki tiga karakteristik umum yaitu ketidak kekalan, penderitaan dan bukan-diri. Hal ini dikenal dengan 'Tiga Karakteristik Keberadaan' atau 'Tiga Corak Umum'.
K ETIDAKKEKALAN (ANNICA)
Semua fenomena yang terkondisi, baik material maupun mental, adalah tidak kekal dan dapat berubah. Tidak ada hal yang bertahan dengan cara yang sama kecuali menghilang dan musnah dari waktu ke waktu. Apa pun yang muncul pada akhirnya akan hilang. Tubuh kita, rumah kita, lingkungan kita, keuangan kita, harga barang, pasar saham, pemerintah, apa pun dan segala sesuatu tidak pernah tetap berada dalam keadaan yang sama.
Terkadang kita berpikir bahwa hal-hal materi tidak berubah, tetapi tidak demikian adanya. Lihatlah segala sesuatu di sekitar Anda dan bandingkan mereka dengan beberapa tahun yang lalu atau bahkan beberapa hari yang lalu dan Anda akan melihat perbedaannya. Harta milik kita juga tidak kekal. Semua hal yang sangat kita cintai, rumah, mobil, pakaian, adalah tidak kekal. Semua akan membusuk dan hancur.
Jika Anda melihat foto-foto diri Anda sejak kecil hingga remaja, hingga saat ini, Anda akan melihat betapa drastisnya perubahan fisik Anda. Keadaan mental kita juga tidak kekal. Mereka berubah dari waktu ke waktu. Satu saat kita bahagia, dan di saat lain sedih. Hubungan kita dengan orang lain, termasuk keluarga kita sendiri, ditandai oleh ketidakkekalan. Teman menjadi musuh; musuh menjadi teman, dll. Ini berlaku untuk segalanya: orang, benda material, fenomena alam. Orang menjadi tua. Logam berkarat. Cat mengelupas. Kain melapuk. Semua fenomena alam, bahkan yang tampak paling tahan lama, bahkan tata surya itu sendiri, suatu hari akan menghilang dan tidak ada lagi. Ada degradasi dan kemunduran di dalam segala hal di sekitar kita.
Memahami ketidakkekalan adalah memahami sifat alami dari kehidupan. Pemahaman ini adalah penangkal dari kemelekatan.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (80)
~ Luang Por Dettajaevo
PENDERITAAN (DUKKHA)
Tidak ada kedamaian yang abadi di dunia. Sifat alami dari kehidupan adalah selalu mengalami perubahan dan pelapukan. Semua hal berpotensi menyebabkan penderitaan karena tidak dapat memberikan kepuasan dalam jangka panjang. Jika Anda berharap selalu merasakan sesuatu hal yang sama, bersiaplah untuk kecewa. Gagal memahami bahwa masa muda, kecantikan, harta benda, kekuatan, kebanggaan, pengalaman menyenangkan dan hidup ini sendiri adalah tidak kekal, membuat kita selalu menginginkannya dan melekat padanya. Namun karena semua tidak kekal, kondisi ini tidak pernah tinggal lama bersama kita. Ketika ini terjadi, penderitaan datang. Melekat pada hal yang tidak kekal menimbulkan penderitaan.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (81)
~ Luang Por Dettajaevo
KEADAAN DUNIAWI
Ketika orang-orang biasa menghadapi keadaan yang berubah di dunia, kondisi pikiran mereka naik dan turun seperti roller coaster. Ketika berhadapan dengan hal-hal yang diinginkan mereka gembira dan putus asa ketika menghadapi konsekuensi yang tidak diinginkan.
Berikut ini adalah delapan keadaan duniawi yang menyentuh kehidupan setiap orang:
- Mendapatkan Kekayaan, apa pun yang kita dapatkan atau yang datang kepada kita sebagai keuntungan, seperti kepemilikan rumah, tanah, properti, uang, perhiasan, atau pasangan.
- Mendapatkan Kehormatan, apa pun yang meningkatkan prestise kita, seperti promosi, posisi yang baik dalam hidup, diberi lebih banyak kekuatan atau wewenang.
- Pujian, apa pun yang membuat kita merasa nyaman seperti menerima pujian, aklamasi, sanjungan, atau upeti.
- Kebahagiaan, apa pun yang membawa kepuasan, kegembiraan, kesenangan dan kenyamanan dalam hidup.
- Kehilangan Kekayaan, kehilangan apa yang Anda miliki atau miliki, seperti pasangan Anda, anak-anak Anda, properti Anda, tanah Anda, bisnis Anda
- Kehilangan Kehormatan, kehilangan prestise Anda, seperti kehilangan kekuatan atau kekuasaan Anda, kehilangan jabatan atau dipecat.
- Disalahkan, dituduh atau dikritik karena kesalahan Anda.
- Penderitaan, mengalami rasa sakit fisik atau mental, mengalami kesulitan atau kesialan.
Ketika kita mencapai kondisi di mana kita merasa utuh dan lengkap, kita ingin semua hal berada pada kondisi itu setiap saat. Semakin dalam kemelekatan kita pada kondisi apa pun yang memberi kita perasaan lengkap ini, semakin besar rasa takut kita akan kehilangan dan semakin parah rasa sakit yang kita alami ketika kita sungguh kehilangannya. Kita menghabiskan banyak waktu dalam hidup kita mengkhawatirkan bagaimana cara mendapatkan kekayaan, kehormatan, pujian dan kebahagiaan. Begitu kita mendapatkannya, kita melekat padanya dan khawatir akan kehilangannya. Jika kita kehilangan, kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meratapinya. Jika Anda membiarkan keadaan yang berubah-ubah ini menentukan suasana hati Anda, pikiran Anda akan menderita. Melekat pada hal-hal yang tidak kekal, sementara, ilusi dan di luar kendali tidak akan membawa apapun kecuali kekecewaan dalam hidup.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (82)
~ Luang Por Dettajaevo
BAGAIMANA MENJADI KEBAL TERHADAP KEADAAN DUNIAWI
Sadarilah bahwa tidak ada perasaan yang abadi dalam kehidupan ini karena tidak ada yang permanen dan selalu berubah. Akuilah bahwa penderitaan adalah sifat alami dari semua hal, bahwa tidak ada esensi atau identitas yang abadi, atau 'diri' yang melekat dan bahwa perubahan keadaan di dunia berada di luar kendali Anda. Pemahaman yang jelas mengenai ketidakkekalan, penderitaan dan bukan-diri akan memberi pandangan yang lebih waras mengenai dunia. Dengan pemahaman ini, Anda akan terbebas dari harapan yang tidak realistis, menerima kegagalan dan penderitaan dan melindungi diri Anda dari asumsi dan kepercayaan yang salah. Ketidak melekatan akan muncul dan kebebasan akan mengikuti.
Latihlah pikiran Anda untuk tabah dan kuat. Jangan biarkan emosi Anda berkuasa. Periksa setiap situasi secara objektif dengan temperamen dan keseimbangan batin yang tenang. Saat Anda bernasib baik, jangan berpikir Anda akan memiliki keberuntungan selamanya. Sadarilah bahwa kekayaan, kehormatan, pujian, dan kebahagiaan adalah tidak kekal dan penderitaan melekat padanya dan karenanya dapat berubah. Saat menghadapi kemalangan, jangan dikalahkan oleh perasaan kehilangan. Periksa kesulitan Anda secara objektif seperti dokter yang memeriksa rasa sakit orang lain. Maka Anda akan melihat bahwa seperti semua hal lain di dunia yang tidak tetap sama selamanya, demikian juga kesulitan Anda.
Berharap yang terbaik dan bersiaplah untuk yang terburuk. Jangan berpikir bahwa Anda adalah satu-satunya yang menderita. Kekecewaan dan kemunduran adalah kejadian normal dalam hidup yang setiap orang harus alami dari waktu ke waktu.
Latihlah pikiran Anda melalui meditasi. Pelatihan mental adalah cara yang efektif untuk mendapatkan kebijaksanaan dan kejelasan. Setelah kejernihan pikiran tercapai, Anda akan melihat sesuatu seperti apa adanya. Ketika pikiran Anda terlatih hingga mencapai tingkat Arahat, Anda akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam diri dan tidak lagi rentan terhadap perubahan kondisi duniawi.
Sama seperti gunung batu padat yang tetap tidak terguncang oleh angin, demikian juga pikiran orang yang tabah tetap tidak goyah oleh keadaan duniawi.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (82)
~ Luang Por Dettajaevo
BERKAH KE 36:
BATIN TAK TERGOYAHKAN.
Di mana ada cinta, di sana ada kesedihan.
Kesedihan menunjukkan kondisi pikiran yang menderita karena rasa sedih dan sakit. Pikiran yang bersedih ibarat lahan yang kering, layu seperti daun kering.
KISAH HARIMAU YANG MENAKUTKAN
Suatu ketika, ada seorang bhikkhu tua yang membangun sebuah kuil di hutan puncak gunung. Bhikkhu itu tetap tinggal di dalam kuil ini tanpa pergi ke tempat lain hampir seumur hidupnya.
Suatu hari, Bhikkhu itu menemukan seorang anak lelaki yatim piatu di hutan. Bhikkhu itu membawa anak lelaki itu kembali ke kuil sampai ia menjadi remaja. Bocah dan bhikkhu itu menghabiskan sebagian besar hidup mereka di kuil. Satu-satunya kontak yang mereka miliki dengan dunia luar adalah ketika mereka mendapati Bhikkhu dari kuil lain yang datang mengunjungi mereka. Sepanjang hidupnya, bocah itu tidak dapat mengingat telah bertemu orang lain selain Bhikkhu.
Pada suatu ketika, Bhikkhu itu perlu menjalankan beberapa tugas di kota terdekat dan dia perlu membawa bocah itu untuk membawa barang-barang. Sehari sebelum mereka melakukan perjalanan, bhikkhu itu memberi peringatan kepada bocah itu: “Ada jenis binatang yang tinggal di kota yang sangat menakutkan. Hewan itu terlihat sama seperti Anda, tetapi memiliki rambut panjang, pipi merah, dan bibir merah. Hewan seperti itu memiliki kebiasaan yang aneh. Apa pun yang Anda lakukan, jangan mendekati hewan-hewan ini. Mereka lebih buruk dari harimau! Jika Anda tidak mengikuti saran saya, Anda tidak akan pernah kembali ke kuil ini hidup-hidup. Jaga jarak Anda."
Mereka berdua pergi ke kota dan kota itu penuh dengan jenis harimau yang diperingatkan oleh biksu itu. Anak laki-laki itu memandang 'harimau' tetapi dia merasa mereka sama sekali tidak menakutkan. Bahkan, mereka terlihat cukup menyenangkan baginya. Kapan pun Bhikkhu itu tidak mengawasinya, dia akan menatap setiap 'harimau' yang lewat. Ada 'harimau' yang sangat menarik dan bagaikan magnit yang membuatnya ingin selalu dekat dengannya.
Dalam perjalanan kembali ke kuil, bocah itu bukan lagi dirinya yang biasanya ceria, tetapi menggantung kepalanya dengan wajah sedih, menyeret kakinya seolah-olah tidak ada energi yang tersisa di dalamnya, dan hampir tidak akan berbicara sama sekali. Bhikkhu itu bertanya kepadanya, "Apakah ada yang salah?"
Bocah ini menjawab, "Saya memikirkan harimau."
Bhikkhu itu berpikir dalam hati, “Masalah yang sama lagi — setelah membesarkan bocah itu sepanjang hidupnya dalam pengasingan, dia masih membuat kesalahan yang sama dengan yang lainnya!”
Terjerat oleh cinta, bocah itu hampir tidak dapat lagi menikmati hidupnya.
CINTA DAN KESEDIHAN
Cinta adalah salah satu emosi manusia yang paling kuat. Orang yang jatuh cinta tidak selalu dapat mengendalikan pikiran mereka. Cinta dapat membawa sensasi kebahagiaan dan kegembiraan bagi seseorang. Cinta juga dapat membawa rasa sedih dan sakit yang tak tertahankan. Mencintai seseorang dan dicintai adalah perasaan yang luar biasa. Mencintai dan tidak dicintai kembali membawa rasa pilu. Kehilangan seseorang atau sesuatu yang Anda cintai, terpisah dari yang dicintai, atau gagal memenuhi keinginan seseorang dapat membawa kesedihan.
Kesedihan adalah rasa sengsara yang terjadi ketika kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang kita sayangi. Penyebab utama kesedihan berasal dari cinta posesif. Cinta posesif tidak sama dengan kasih sayang, suatu bentuk cinta tanpa pamrih yang didasarkan pada kebaikan dan kedermawanan; tetapi itu adalah cinta egois. Cinta egois mengacu pada emosi keterikatan yang kuat, seperti merindukan keintiman, keinginan untuk memiliki, atau ketertarikan kepada lawan jenis. Cinta posesif tidak hanya merujuk pada orang, tetapi pada apa pun yang membuat Anda terikat secara emosional, apakah itu rumah Anda, mobil Anda, atau kucing Anda. Apa pun yang berhubungan dengan cinta posesif seperti duri yang suatu hari akan menusukmu dan membuatmu sakit.
Hal ini tidak hanya materi melainkan emosi seperti cinta, rindu dan hubungan. Kebahagiaan kita tidak dapat bertahan lama karena biasanya bergantung pada materi atau emosi yang tidak bertahan lama.
BUKAN DIRI (ANATTA)
Semua hal yang dirasakan oleh indera (termasuk indera mental) sebenarnya bukan "aku", "diriku", atau "milikku". Tidak ada esensi abadi, hanya ilusi keberadaan diri. Baik di dalam fenomena keberadaan fisik maupun mental dapat dianggap sebagai entitas ego yang nyata, jiwa, atau substansi lain yang tinggal.
Tidak ada satu pun di dunia ini yang memiliki identitas tersirat. Sebuah alas meditasi misalnya baru bermakna sebagai alas meditasi ketika ada beberapa komponen disatukan hingga ia memiliki bentuk. Jika tidak disatukan, benda itu hanyalah tumpukan kain, serat, benang, dll. Tidak ada satu komponen yang memperlihatkan bahwa itu adalah alas meditasi. Jika kita melihat di bawah mikroskop, yang terlihat hanyalah kumpulan sel. Sama halnya dengan manusia yang melihat tubuhnya dan mengatakan "Ini aku.", "Ini adalah apa yang menjadikan saya diri saya yang sekarang". Jika mereka melihat dengan seksama, mereka akan melihat bahwa tubuh mereka hanyalah sekumpulan organ, tulang, jaringan dan saraf. Setelah mereka meninggal dunia, tubuh mereka akan rusak dan hancur menjadi banyak bagian. Tidak ada satu bagianpun yang memperlihatkan siapa mereka.
Aspek lain dari 'bukan-diri' adalah bahwa tidak ada yang di bawah kendali kita. Bahkan jika Anda tidak ingin terlihat tua, Anda tidak dapat menghentikan tubuh Anda dari penuaan. Anda tidak dapat memerintahkan kulit Anda untuk tidak keriput, atau rambut Anda tidak menjadi abu-abu atau rontok. Demikian juga, Anda tidak dapat memberi tahu mobil Anda untuk tidak mogok, atau rumah Anda agar tidak berantakan. Tidak ada yang bisa menghentikan proses ini.
Ketidakkekalan berhubungan langsung dengan karakteristik 'bukan- diri', memahami ketidakkekalan adalah kunci memahami bukan-diri, ketidakpribadian atau ketidakberwujudan.
Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat menyangkal diri. Bagaimanapun, kita berkata, "Aku berbicara" atau "Aku berjalan," "Aku dipanggil ini dan itu" atau "Aku adalah ayah (atau anak) dari orang ini dan itu." Bagaimana kita dapat menyangkal realitas "aku" itu?
Sang Buddha menggunakan perumpamaan kereta dan hutan untuk menjelaskan hubungan antara nama atau istilah "Aku" dan komponen- komponen pengalaman pribadi. Istilah "kereta" hanyalah nama yang cocok untuk menyebut kumpulan bagian yang dirakit dengan cara tertentu. Roda bukan kereta, gandar, gerbong, dan sebagainya. Demikian pula, satu pohon atau sekumpulan pohon, bukanlah hutan. Namun tidak ada hutan terpisah dari pohon, jadi istilah "hutan" hanyalah nama yang cocok untuk kumpulan pohon.
"Diri" hanyalah nama yang cocok untuk kumpulan agregat dan atribut. Tidak ada diri, tidak ada jiwa, tidak ada esensi, tidak ada inti dari pengalaman pribadi selain dari faktor fisik dan mental pengalaman pribadi yang selalu berubah, saling tergantung, tidak kekal, seperti perasaan, ide, kebiasaan, dan sikap kita.
Analisis berikut akan membantu Anda memahami bahwa diri tidak dapat ditemukan di dalam tubuh atau pikiran:
- 1. Tubuh bukan diri, karena jika tubuh adalah diri, diri akan menjadi permanen, tidak akan berubah, rusak, hancur, dan mati. Karenanya tubuh tidak bisa menjadi diri.
- 2. Diri tidak memiliki tubuh, dalam arti bahwa saya memiliki mobil atau televisi, karena diri tidak dapat mengendalikan tubuh. Tubuh jatuh sakit, lelah dan tua melawan keinginan kita. Tubuh memiliki penampilan yang seringkali tidak sesuai dengan keinginan kita. Karena itu, tidak ada diri yang memiliki tubuh.
- 3. Diri tidak ada di dalam tubuh. Jika kita mencari tubuh kita dari puncak kepala kita sampai ke ujung jari kaki kita, kita tidak akan menemukan diri kita di mana pun. Diri tidak ada di dalam tulang atau di dalam darah, di dalam sumsum atau di dalam rambut atau air liur. Diri tidak dapat ditemukan di dalam tubuh.
- 4. Tubuh tidak ada dalam diri. Agar tubuh ada dalam diri, diri harus ditemukan terpisah dari tubuh dan pikiran, tetapi diri tidak dapat ditemukan.
Dengan cara yang sama,
- 1. Pikiran bukanlah diri karena, seperti tubuh, pikiran tunduk pada perubahan yang konstan dan terus-menerus gelisah. Pikiran bahagia satu saat dan tidak bahagia pada saat berikutnya. Karenanya pikiran bukanlah diri karena pikiran terus berubah.
- 2. Diri tidak memiliki pikiran karena pikiran menjadi bersemangat atau tertekan terhadap keinginan kita. Meskipun kita tahu bahwa pikiran-pikiran tertentu itu bermanfaat dan pikiran-pikiran tertentu tidak bermanfaat, pikiran mengejar pikiran-pikiran tidak bermanfaat dan acuh tak acuh terhadap pikiran-pikiran sehat. Karenanya diri tidak memiliki pikiran karena pikiran bertindak secara independen dari diri.
- 3. Diri tidak ada dalam pikiran. Tidak peduli seberapa hati-hati kita mencari isi pikiran kita, tidak peduli seberapa hati-hati kita mencari perasaan, ide, dan kecenderungan kita, kita tidak dapat menemukan diri kita di mana pun dalam pikiran dan keadaan mental.
- 4. Pikiran tidak ada dalam diri juga karena, sekali lagi, diri harus ada terpisah dari pikiran dan tubuh, tetapi diri seperti itu tidak dapat ditemukan.
Begitu kita mengidentifikasi, membayangkan, atau membayangkan diri kita sebagai entitas, kita segera menciptakan perpecahan, pemisahan antara diri kita sendiri dengan orang-orang dan hal-hal di sekitar kita. Selama kita berpegang teguh pada diri sendiri, kita harus selalu membela diri, prestise, pendapat, dan bahkan pernyataan kita. Tapi begitu kita melepaskan kepercayaan pada diri yang mandiri dan permanen, kita akan bisa berhubungan dengan orang lain dan situasi tanpa paranoia. Kita akan dapat bertindak lebih bebas, lebih spontan, dan lebih kreatif. Memahami bukan-diri adalah bantuan untuk hidup.
Tiga karakteristik ini, ketidakkekalan, penderitaan, dan bukan-diri, dimiliki oleh semua hal. Mereka adalah fitur dasar umum untuk semuanya, dari mikroba ke manusia, dari sensasi paling sederhana hingga pikiran seorang jenius kreatif. Memahami tiga karakteristik adalah bagian dari isi kebijaksanaan. Hidup dapat dipahami dengan benar hanya jika tiga fakta dasar ini dipahami.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (83)
~ Luang Por Dettajaevo
CINTA IBARAT JEBAKAN MONYET
Di masa lalu, pemburu memiliki cara yang cerdik untuk menangkap monyet. Mereka akan meninggalkan sepotong kayu yang dilapisi lem kuat dari getah pohon. Kayu yang dilapisi lem akan ditempatkan di sebelah pohon buah. Seekor monyet yang memakan buah itu secara tidak sengaja akan menyentuh kayu yang lengket dan tangannya akan menempel kuat pada kayu. Selanjutnya ia akan mencoba menarik kayu menggunakan tangan yang lain; tetapi sisi lain akan terjebak pada kayu juga. Oleh karena itu, ia akan mencoba untuk menendang tangannya bebas dengan satu kaki; tetapi kakinya akan menempel di kayu. Tentu saja, ia akan mencoba melepaskan tangannya dengan kaki yang lain; tapi kakinya yang lain akan menempel di kayu juga.
Hanya ada satu hal lagi yang bisa dilakukan untuk bebas: menggigit. Dia akan mencoba menggigit kayu, tetapi mulutnya kemudian akan menempel pada kayu. Akhirnya, ia akan berguling-guling di tanah dan menunggu pemburu datang dan mengambilnya.
Ketika berbicara tentang jatuh cinta, orang-orang tidak lebih masuk akal daripada monyet yang terjebak oleh lem pemburu. Ekspresi di wajah monyet yang terperangkap dan ekspresi di wajah kekasih yang ditolak cintanya persis sama: mereka terlihat depresi dan putus asa.
Seperti terjebak oleh lem pemburu, begitu pikiran telah melekat pada cinta posesif, pikiran tak lagi dapat membebaskan dirinya sendiri. Dalam keadaan pikiran seperti itu, kapanpun Anda tidak melihat pasangan Anda, Anda kehilangan nafsu makan. Hanya mendengar suaranya di telepon atau melihat wajahnya sekilas atau melintas di rumahnya akan memuaskan Anda. Jika mereka membalas cinta Anda, kesedihan ini tidaklah terlalu buruk. Namun bagaimana jika cinta Anda tak berbalas? Atau jika awalnya ia mencintai Anda namun berubah pikiran? Atau ia mencintai orang lain? Atau meninggal dunia? Pada kondisi ini, pikiran Anda merasa sangat tersiksa bagaikan terbelah dua.
MENUTUP PINTU PADA KESEDIHAN
Kita tidak dapat lepas dari delapan keadaan duniawi yang diuraikan dalam Berkah 35, tetapi kesedihan adalah sesuatu yang dapat dipilih untuk hindari. Kebanyakan kesedihan di dunia disebabkan karena cinta dan kemelekatan yang kita miliki untuk hal-hal fisik, baik itu tubuh kita, orang-orang yang kita cintai, hewan peliharaan kita, atau barang- barang kita. Setelah Anda membebaskan diri dari keterikatan pada hal-hal fisik, Anda bebas dari kesedihan. Apa yang dapat Anda lakukan, jika Anda masih merasa perlu mencintai sesuatu atau seseorang? Berikut adalah beberapa saran:
Bedakan antara cinta posesif dan cinta yang tulus. Ini tidak berarti bahwa Anda tidak dapat mengungkapkan kasih sayang kepada orang-orang atau hal-hal yang Anda sukai, tetapi itu berarti Anda tidak boleh membiarkan kasih sayang Anda berubah menjadi cinta atau obsesi yang posesif.
- Cintai diri Anda sendiri. Hal ini bukan berarti egois atau bersikap dingin dan tidak berperasaan pada orang lain. Mencintai diri sendiri berarti Anda tidak membiarkan rasa cinta membawa penderitaan pada diri Anda atau menyebabkan Anda melakukan hal-hal yang berbahaya dan merusak moral.
- Rutin bermeditasi . Meditasi membantu Anda untuk selalu sadar atas indera Anda sendiri. Semakin Anda bermeditasi, pikiran Anda semakin tabah dan kebal pada gairah inderawi.
- Tanamkan disiplin moral . Jagalah sila Anda tetap murni. Latih Delapan Sila secara teratur jika Anda bisa. Delapan Sila adalah penangkal terbaik untuk godaan inderawi. Bagaimanapun, perlindungan terbaik adalah untuk hidup selibat atau menjadi biarawan.
- Merenungkan Tiga Corak Utama. Ingatlah bahwa semua hal, termasuk cinta dan hubungan, tunduk pada ketidakkekalan, ketidakpuasan dan ketidakberdayaan.
- Renungkan kematian. Ingatkan diri Anda bahwa kematian adalah tidak terhindarkan. Semua yang lahir ke dunia akan mengalami tua, sakit dan mati. Umat Buddha mengingat fakta ini setiap hari dengan merenungkan, "Kita akan mengalami usia tua, kita belum mengatasi usia tua. Kita akan mengalami penyakit, kita belum mengatasi penyakit. Kita akan mengalami kematian, kita belum mengatasi kematian."
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (84)
~ Luang Por Dettajaevo
APA GUNANYA MENANGIS?
Suatu ketika di India kuno hiduplah seorang petani yang memiliki seorang istri, seorang putra, seorang putri, dan seorang pelayan. Suatu hari, petani itu membajak di ladang bersama putranya, yang sedang menyiangi dan membakar gulma. Api unggun menyebabkan asap masuk ke liang ular berbisa. Ular itu keluar dan menggigit putranya, membunuhnya.
Biasanya, seorang ayah akan menangis saat kematian putranya. Tapi ini bukan petani biasa. Dia adalah orang bijak yang memahami realitas kehidupan. Dia melihat bahwa tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan putranya, jadi dia terus membajak. Seorang tetangga lewat. Petani memintanya untuk memberi kabar kepada keluarganya. Setelah mendengar berita itu, semua orang di rumah itu bergegas ke ladang dan melihat putranya terbaring mati.
Seperti petani, tidak ada yang meneteskan air mata, tetapi membantu mengkremasi putranya. Ketika mereka sedang mengkremasi, seorang Brahmana tua muncul entah dari mana dan bertanya, "Tubuh siapa ini yang kau kremasi?"
"Ini putra saya." jawab Petani.
“Biasanya seorang ayah menangis saat kematian putranya, atau setidaknya ibu atau saudaranya atau pelayannya harus menangis. Kenapa tidak ada dari kalian yang menangis? ”Tanya sang brahmana.
“Kami punya alasan untuk tidak menangis,” petani itu menjelaskan. "Ketika kehidupan tubuh seseorang berakhir, itu seperti ular yang harus berganti kulit. Anak saya akan memiliki kehidupan lain di depannya. Jika dia baik, dia akan memiliki kelahiran kembali yang baik. Jika dia melakukan kejahatan dia akan mengalami kelahiran kembali yang malang. Bahkan jika aku menangis, tidak ada bedanya dengan tujuan akhiratnya. Apa gunanya menangis?"
Sang ibu berkata, “Ketika putra saya lahir, tidak ada yang mengundangnya. Ketika dia meninggal, dia tidak mengucapkan selamat tinggal. Dia telah pergi dengan cara yang sama seperti saat dia datang. Bahkan jika saya menangis, anak saya tidak akan tahu. Ini adalah kenyataannya. Apa gunanya menangis?"
Adik perempuannya berkata, “Jika saya menangis, itu hanya akan merusak penampilan saya, atau bahkan membuat saya sakit. Itu kemudian akan menambah kekhawatiran keluarga saya. Tangisan saya tidak akan membuat siapapun lebih bahagia. Apa gunanya menangis?"
Pelayan berkata, “Kamu tidak bisa mengambil potongan-potongan panci yang pecah dan membuatnya menjadi seperti dulu. Dengan cara yang sama, tidak ada gunanya menangisi mayat. Tangisan saya tidak akan mengembalikan putranya. Apa gunanya menangis?"
HIDUP TANPA KESEDIHAN
Melepaskan diri dari cinta nampak seperti pendekatan hidup yang tidak biasa. Mungkin Anda berpikir, "Bagaimana hidup akan lengkap tanpa cinta dan keluarga?" Namun jika Anda memutuskan untuk hidup bebas dari kesedihan, Anda harus menjauhkan diri dari hal-hal yang berpotensi membuat Anda sedih. Sebagian besar kesedihan di dunia ini disebabkan oleh cinta yang posesif. Semakin Anda mencintai, semakin Anda menderita, semakin sedikit Anda mencintai, semakin sedikit Anda menderita. Jika Anda tidak mencintai apa pun dan siapa pun, Anda tidak akan menderita.
Apakah mungkin untuk menjalani kehidupan tanpa kesedihan?
Mungkin, jika Anda melatih pikiran Anda untuk menjadi kebal terhadap keinginan dan keterikatan duniawi. Batin tak tergoyahkan dan bebas dari kesedihan adalah karakteristik dari seseorang yang kondisi pikirannya telah mencapai Nibbana, bebas dari hasrat. Cara utama untuk melindungi pikiran Anda dari kesedihan adalah berusaha untuk mencapai Nibbana. Nibbana adalah kondisi kebahagiaan tertinggi yang tidak bisa diganggu oleh penderitaan dan kesedihan.
Buddha berkata: "Sepanjang putaran kehidupan ini, jumlah air mata yang kamu curahkan karena kematian putra, suami, orang tua dan saudara adalah tidak terhitung."
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (85)
~ Luang Por Dettajaevo
BERKAH KE 37:
TIADA MARAH DAN TANPA NODA
Semua manusia dilahirkan dengan kekotoran batin.
Pada dasarnya, pikiran kita murni dan bercahaya. Namun pikiran kita ternodai oleh hal-hal yang tidak baik yang disebut kekotoran batin (kilesa). Kekotoran batin adalah emosi negatif atau kesengsaraan mental yang mengaburkan pikiran dan menyebabkan tindakan yang tidak baik. Mereka ibarat bakteri atau virus di dalam tubuh.
KEKOTORAN BATIN
Kekotoran batin, seperti sampah, memiliki bentuk kasar dan halus. Sampah kasar (seperti limbah dan puing-puing) mudah disadari, sementara sampah halus (seperti debu) sulit dideteksi. Demikian juga, kekotoran batin yang kasar mudah diidentifikasi, sementara kekotoran batin yang halus tidak. Kekotoran batin yang halus seperti debu yang menempel pada permukaan cermin. Sangat kecil sehingga tidak bisa dilihat dengan penglihatan normal. Anda hanya dapat melihatnya saat membersihkan cermin. Kekotoran batin yang halus begitu kabur sehingga Anda hampir tidak tahu bahwa mereka ada. Bahkan ketika Anda menemukannya, Anda mungkin masih tidak menyadari bahwa itu adalah kekotoran batin. Selama kekotoran batin masih ada, mereka akan menembus, merangkul dan menyusup ke dalam pikiran, menyebabkannya kehilangan pancaran dan kemurniannya. Tetapi begitu kekotoran-kekotoran telah sepenuhnya dicabut, mereka tidak dapat lagi memegang kendali atas fungsi pikiran.
Kekotoran dapat bermanifestasi pada tiga tingkat:
- Tingkat rendah : Laten seperti sedimen yang menunggu untuk diaduk;
- Tingkat menengah : Hanya muncul dalam pikiran;
- Tingkat kasar : muncul dalam bentuk tindakan tidak bermanfaat.
Untuk mencapai tujuan akhir pembebasan, Anda perlu mencabut semua kekotoran batin di semua tingkatan sampai pada titik dimana mereka tidak akan pernah bisa kembali. Pikiran yang bebas dari kekotoran batin yang halus bebas dari semua tingkat kekotoran batin. Pikiran seperti itu murni dan suci dan bersinar seperti kualitas pikiran seorang Arahat.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (86)
~ Luang Por Dettajaevo
TIGA AKAR PERBUATAN BURUK
Keserakahan (Lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) adalah induk dari semua kekotoran batin. Mereka adalah akar dari perbuatan buruk. Semua kecenderungan negatif bersumber dari ketiga hal ini.
KESERAKAHAN
Nafsu, keinginan, kekikiran, ketamakan, kesenangan, bersumber dari keserakahan. Diurutkan dari keseriusannya, ada beberapa jenis keserakahan :
- Menginginkan hal-hal dengan cara yang tidak jujur: Ini adalah saat keserakahan menjadi begitu tak terkendali hingga mengambil alih moral dan penilaian Anda. Anda memilih untuk menggunakan cara yang tidak jujur untuk mendapatkan hal yang Anda inginkan. Contoh: Anda memiliki kemampuan membayar sesuatu, namun Anda malah menipu, mencuri atau menggunakan kekerasan untuk mendapatkannya.
- Ketamakan Terbuka : Ini adalah keinginan kuat untuk mendapatkan sesuatu hingga Anda dapat menyembunyikan niat dan keinginan Anda serta bersedia menggunakan cara-cara yang tidak bermoral untuk mendapatkannya.
- Ketamakan Yang Jelas: Anda memiliki keinginan kuat untuk memiliki sesuatu milik orang lain tetapi tidak terlalu kuat sehingga masih dapat menyimpan keinginan ini sendiri.
- Menggunakan cara yang tidak bermoral untuk memuaskan keinginan Anda. Keserakahan ini tidak membuat Anda mencuri namun Anda bersedia mengkompromikan nilai-nilai moral dan integritas Anda untuk mendapatkan sesuatu. Seperti orang yang ingin kaya dan akan melakukan pekerjaan apa pun, walaupun berarti menjual narkoba, menerima suap atau pelacuran.
- Menginginkan lebih dari bagian Anda. Ini adalah saat di mana keserakahan mengambil alih pertimbangan Anda untuk orang lain. Ini adalah bentuk keegoisan. Contoh : makanan di pesta tinggal sedikit tapi Anda mengambilnya untuk Anda sendiri atau Anda berbagi taksi dengan orang lain tapi tidak mau berbagi ongkos, atau Anda adalah rekan bisnis yang mau berbagi keuntungan namun tidak mau berbagi pengeluaran.
- Nafsu keinginan sensual: Keterikatan pada objek-objek indera yang menyenangkan; tertarik secara obsesif kepada seseorang atau sesuatu. Ini bukan pelanggaran jika dilakukan tanpa melanggar hukum atau moral, tetapi merupakan bentuk kekotoran batin karena keterikatan pada sensualitas dapat memperlambat kemajuan spiritual Anda atau menyebabkan penderitaan.
- Kelicikan : Ini adalah saat Anda berhasrat untuk mendapatkan sesuatu dari seseorang tetapi tidak memiliki keberanian atau terlalu malu untuk memintanya secara langsung, dan Anda menggunakan cara licik atau lihai untuk mendapatkannya. Ini bukan menipu atau berbohong atau sesuatu yang tidak etis, tetapi itu bukan perilaku yang terus terang.
- Melekat pada Alam Inderawi. Inilah saat Anda masih memiliki keterikatan pada kesenangan sensual. Keterikatan ini akan menghambat kemajuan spiritual Anda dan mencegah Anda terlahir kembali di luar alam inderawi.
- Melekat pada Alam Bentuk. Ketika Anda bermeditasi dan mencapai tingkat pencerahan pertama atau lebih tinggi, Anda mengalami rasa senang, bahagia dan tenang yang belum pernah Anda alami, dan merasa itu adalah tujuan akhir dari kesucian, lalu Anda melekat pada kondisi ini. Hal ini menahan Anda untuk membuat kemajuan lebih jauh. Kemajuan spiritualitas Anda terhenti dan Anda kehilangan arah untuk tujuan jangka panjang.
- Melekat pada Alam Tanpa Bentuk. Ketika Anda bermeditasi sampai pada tingkat Penyerapan Tanpa Bentuk dan mengalami kebahagiaan yang bahkan lebih besar daripada Penyerapan Bentuk, Anda menjadi tertarik pada kondisi ini dan tidak berusaha melangkah lebih jauh. Anda begitu dekat untuk mencapai kondisi akhir pencapaian, namun kemajuan spiritual Anda berakhir di sini. Ini adalah fenomena yang terjadi pada banyak Bhikkhu dan meditator yang berdedikasi yang berada di ambang Nibbana tetapi gagal mencapainya.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (87)
~ Luang Por Dettajaevo
KEBENCIAN
Kebencian, akar kejahatan kedua, memunculkan segala jenis dan tingkat keengganan. Niat buruk, kemarahan, kejengkelan, permusuhan, pikiran atau ekspresi agresi terhadap orang lain, semua berasal dari kekotoran batin kebencian. Dalam urutan penurunan keseriusan, kebencian terdiri dari :
- Dendam dan niat buruk : Ini adalah permusuhan, pertentangan, dengki, menyimpan dendam, agresi, dan permusuhan. Ini adalah keinginan jahat untuk menghancurkan seseorang atau sesuatu yang begitu kuat sehingga jika Anda tidak berhasil menghancurkan mereka hari ini, Anda akan memastikan Anda berhasil pada kesempatan mendatang. Ibarat air dalam teko, hal ini seperti air yang sangat mendidih sehingga meluap keluar dari ketel dan melepuhkan orang-orang di dekatnya.
- Amarah Terarah : Ini adalah kemarahan yang bersifat merusak, dengan pikiran melukai atau merusak seseorang atau sesuatu. Hal ini seperti air yang mendidih.
- Amarah Tidak Terarah : Ini adalah jenis kemarahan yang tidak ditujukan kepada siapa pun, karena tidak ada yang bisa disalahkan karena menyebabkannya. Contoh: menggigit lidah Anda sendiri saat makan, atau secara tidak sengaja menginjak jari kaki Anda. Anda marah, tetapi itu hanya perasaan, tidak sebesar permusuhan terhadap siapa pun. Ini seperti desis air yang mulai mendidih.
- Lekas Marah : Ini adalah perasaan jengkel atau terganggu dalam pikiran Anda ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan Anda. Contoh: Anda ingin duduk bermeditasi dan seseorang menyalakan radio. Anda tidak marah tetapi jengkel. Meskipun jenis kemarahan ini dapat diabaikan dan tidak berbahaya, ia tetap harus dihindari karena berpotensi menjadi marah yang besar.
- Tidak suka : Ini adalah perasaan takut dan gelisah. Contoh: Anda memiliki perbedaan pandangan dengan seseorang tetapi harus bekerja bersama dalam sebuah proyek atau di ruangan yang sama dengan orang itu. Anda lebih suka tidak harus bekerja dengan atau bersama orang tersebut. Jika Anda masih memiliki perasaan seperti itu, pikiran Anda berada di bawah pengaruh kekotoran batin yang halus.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (88)
~ Luang Por Dettajaevo
KEBODOHAN
Kebodohan (batin), akar kejahatan ketiga, adalah ketidaktahuan mendasar mengenai realita kehidupan. Ini semacam kebutaan pikiran yang menghalangi pikiran dan pemahaman mengenai benar dan salah, perilaku yang pantas dan tidak pantas serta nilai-nilai spiritualitas yang penting dipahami semua orang. Ini adalah sebuah bentuk pengetahuan yang tidak bergantung pada tingkat pendidikan Anda melainkan pada sikap Anda terhadap dunia. Dalam urutan keseriusan, kebodohan terdiri dari:
- Pandangan salah: Ini adalah bentuk kebodohan yang paling serius. Pandangan atau kepercayaan yang bertentangan dengan kebenaran. Contoh: percaya bahwa kebaikan adalah salah atau kejahatan itu adalah benar, bahwa tindakan seseorang sendiri tidak memiliki konsekuensi, tidak ada pahala dan dosa atau kehidupan setelah kematian, atau bahwa kita tidak berhutang budi kepada orang tua kita. Pandangan salah adalah akar dari banyak masalah dan konflik di dunia. Banyak orang melakukan tindakan buruk, karena mereka tidak tahu bahwa tindakan mereka salah.
- Kesalahpahaman: Bentuk kebodohan yang menghalangi pemahaman Anda tentang perbedaan antara benar dan salah.
- Ilusi diri: Ilusi individualisme, pandangan bahwa ada entitas yang tidak berubah, jiwa yang permanen; memiliki pendapat yang melambung tentang diri sendiri dan sikap tidak hormat terhadap orang lain; percaya diri Anda lebih penting dan unggul dari orang lain. Pandangan ini mengarah pada egoisme, kesombongan palsu, dan prasangka, kondisi mental negatif yang mengarah pada penderitaan. Pandangan salah ini dapat dihilangkan dengan latihan meditasi dan Anda dapat melihat batin Anda.
- Keraguan: Ini adalah jenis pemikiran yang membingungkan atau keraguan yang menghambat kemajuan spiritual Anda. Contoh: meragukan apakah meditasi benar-benar berfungsi; apakah guru Anda berkualitas; apakah pahala, dosa, dan hukum karma benar-benar ada; apakah benar-benar mungkin untuk tercerahkan, dll.
- Ketaatan pada ritual belaka: Terjebak dalam takhayul dan ritual yang salah. Beberapa orang percaya bahwa makanan tertentu atau mandi di sungai suci akan membawa keselamatan. Beberapa pergi ke peramal untuk meringankan karma buruk mereka. Beberapa mengorbanan hewan, pemujaan roh, atau percaya bahwa benda-benda tertentu seperti gunung, pohon, batu, atau hewan tertentu, adalah perlindungan mereka. Sebenarnya, tak satu pun dari ini dapat melindungi dari penderitaan.
- Keangkuhan: Ada kesombongan atau kebanggaan ketika Anda menganggap diri Anda penting. Ada tiga cara yang membuat Anda sombong: menganggap diri Anda sama dengan orang lain; menganggap diri Anda berstatus lebih rendah atau lebih tinggi serta berpikir Anda memiliki prestasi ketika Anda tidak memiliki pencapaian apa-apa. Ketiga cara ini adalah salah. Daripada membandingkan diri Anda dengan orang lain, Anda harus membandingkan diri Anda hari ini dengan keadaan Anda kemarin atau minggu lalu dan berusaha untuk meningkatkan diri.
- Gelisah: Ini adalah kondisi mental yang terkait dengan kesadaran yang tidak bermanfaat. Kegelisahan pikiran dialami di dalam meditasi ketika Anda mencoba menenangkan pikiran Anda tetapi pikiran Anda mengembara ke mana-mana. Kegelisahan ditandai oleh rasa tidak tenang seperti air yang tertiup oleh angin.
- Ketidaktahuan: Ini adalah kesalahpahaman mendasar tentang sifat sejati dari kenyataan, kurangnya pengetahuan sejati tentang fakta-fakta keberadaan, keengganan atau kegagalan untuk melihat atau memahami fakta-fakta kehidupan sebagaimana adanya. Ibarat seorang yang buta atau mengenakan penutup mata.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (89)
~ Luang Por Dettajaevo
BELENGGU
Manusia sangat terbebani oleh belenggu (samyojana) yang telah mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri. Kecenderungan-kecenderungan egois yang didorong oleh kekuatan keserakahan, kebencian, dan kebodohan memunculkan belenggu ini.
Terikat oleh belenggu yang diciptakan sendiri, manusia mengalami penderitaan, kesulitan dan penderitaan yang berulang. Berikut ini adalah sepuluh belenggu, bentuk kekotoran batin yang mengikat seseorang dengan samsara :
1. Ilusi diri, pandangan salah mengenai individualisme.
2. Keragu-raguan.
3. Ketaatan pada ritual belaka.
4. Nafsu inderawi.
5. Keinginan buruk.
6. Kemelekatan pada Alam Bentuk.
7. Kemelekatan pada Alam Tanpa Bentuk.
8. Keangkuhan.
9. Kegelisahan.
10. Ketidaktahuan.
Belenggu mengikat di beberapa masa kehidupan dan sulit dihapuskan. Setelah berhasil dipatahkan, batin akan bersinar secara permanen, murni layaknya batin para Arahat. Mematahkan belenggu memampukan seseorang mencapai Nibbana.
SUTRA TENTANG BERKAH UTAMA (90)
~ Luang Por Dettajaevo
DERAJAT KESERIUSAN
Keserakahan tidak terlalu merusak tetapi membutuhkan waktu lama untuk pulih dari efek negatifnya. Sebagai contoh yang jelas, pikirkan berapa lama untuk pulih dari patah hati.
Kebencian sangat merusak tapi tidak butuh waktu lama untuk pulih. Ikatan kemarahan biasa hanya sebentar. Namun, karena pengaruh kebencian atau kemarahan, ada kekejaman dan kekerasan yang dapat dilakukan tanpa akhir.
Ke bodohan memiliki karakter yang sangat merusak, dan juga butuh waktu lama untuk diperbaiki. Hal yang paling menakutkan tentang kebodohan adalah bahwa kita tidak sadar bahwa kita tidak tahu. Jika Anda melakukan sesuatu tanpa memahaminya, Anda memiliki kecenderungan untuk terus melakukan hal itu dan melakukan kesalahan yang sama tanpa henti.
MENGATASI KEBODOHAN BATIN YANG HALUS
Bagi kebanyakan orang, noda batin ini sangat halus hingga mereka merasa tidak masalah jika mereka memilikinya atau tidak. Walaupun di permukaan, kebodohan batin ini nampak tidak berbahaya, mereka seperti bakteria yang jika dibiarkan dapat merusak seluruh tubuh. Kita tidak dapat menyepelekan kebodohan batin sekecil apapun. Adalah sebuah percikan api yang dapat membakar habis satu kota. Pengamanan terbaik adalah kita mencabutnya hinga ke akar dan tidak membiarkannya tumbuh kembali.
Berikut ini adalah langkah-langkah balasan yang dapat Anda gunakan untuk mengatasi kekotoran batin:
- Keserakahan, kekikiran dibalas dengan kedermawanan, amal sedekah dan rasa puas.
- Marah, keinginan buruk dibalas dengan kasih sayang, niat baik, kesabaran, cinta kasih.
- Kebodohan dibalas dengan meditasi, mengembangkan kebijaksanaan, mempelajari Dhamma.
- Nafsu Inderawi dibalas dengan menahan nafsu, hidup selibat, berlatih Delapan Sila, bermeditasi dengan objek yang menjijikkan.
- Keangkuhan dibalas dengan kerendahan hati, rasa hormat, tidak mencari kesalahan orang lain.
Hapus kegelapan pikiran Anda dengan cahaya Dharma. Kembangkan semua kebajikan yang diajarkan dalam Dhamma dengan menghindari orang bodoh hingga bergaul dengan orang bijak, memperoleh pengetahuan yang tepat, hingga mengembangkan kebiasaan kedermawanan, kesabaran, dan rasa hormat. Berlatih meditasi setiap hari. Praktek meditasi dan moralitas mengarah pada pengendalian diri, pemurnian, dan pencerahan.
Dia yang memiliki kekotoran batin, dia juga yang dapat memurnikannya
BELENGGU YANG MENGIKAT KITA PADA SAMSARA
Alasan mengapa kita dikelilingi oleh penderitaan dan mengapa kita tidak dapat membebaskan diri dari penderitaan adalah karena kita dipenjara di dalam kurungan samsara, diikat oleh belenggu (yoga) buatan kita sendiri. Selama belenggu ini tidak terlepas, kita akan terus terikat pada samsara dan tunduk pada siklus kelahiran dan kematian. Berikut ini adalah empat belenggu yang mengikat kita pada samsara:
- Belenggu Hasrat Keinginan : Selama kita masih tertarik pada kesenangan indera, misalnya, mendengarkan musik yang indah, mencicipi makanan lezat, mengenakan pakaian modis, melihat gambar-gambar indah, atau mengisi rumah kita dengan harta benda, belenggu ini akan mengikat kita erat ke alam inderawi.
- Belenggu Pencerapan : Selama kita berpegang teguh pada kondisi meditatif kita pada tingkat penyerapan bentuk dan penyerapan tanpa bentuk (belum yang tertinggi, karena tidak mencapai pencerahan), belenggu ini akan mengikat kita ke alam Brahma, tidak membiarkan Anda melampauinya. Karena keterikatan ini, kita berada di ambang Nibbana dan tidak mampu menggapainya.
- Belenggu Pandangan Salah : Ini adalah pandangan yang bertolak belakang dengan kebenaran. Contoh : percaya bahwa tindakan baik dan buruk tidak memiliki konsekuensi, tidak ada surga, neraka atau hidup setelah kematian, kedermawanan tidak bermakna dan tidak bermanfaat, anak tidak berhutang budi pada orang tuanya dan pencerahan tidak dapat dicapai. Pandangan ini menghalangi potensi diri kita untuk mencapai pencerahan.
- Belenggu Kebodohan : Ini adalah kesalahpahaman mendasar mengenai realita kehidupan. Kebodohan adalah penghalang bagi kebijaksanaan yang dibutuhkan untuk mencapai pencerahan.
Belenggu-belenggu ini membuat kita terikat pada siklus kelahiran kembali tanpa akhir. Mereka mencegah kita mengakses kebijaksanaan yang membebaskan kita dari penderitaan. Terikat oleh belenggu ini, kita mengalami kesulitan berulang, kemalangan dan kesengsaraan, yang merampok kepercayaan diri dan keberanian kita. Hasilnya adalah kita bergantung pada doa dan pemuka agama, upacara dan ritual, pengorbanan dan sakramen, spekulasi dan supranatural — alih-alih kebijaksanaan. Saat pencerahan tercapai, belenggu ini dipatahkan.
MERAIH KEDAMAIAN BATIN
K etika pikiran suci dan terlatih, mencapai tingkat pencapaian meditasi yang transendental, pikiran menjadi bahagia dan aman. Pikiran di kondisi ini bebas dari hasrat, nafsu indewasi, telindung dari kekhawatiran dan kebal terhadap perubahan keadaan duniawi. Pikiran menjadi tenang dan tenteram. Inilah kondisi pikiran atau batin para Arahat yang damai.
Kata 'kedamaian' dalam Pali (khema) lebih dalam dari sekadar kebahagiaan. Ini mencakup keselamatan, keamanan, kedamaian, ketenangan, kebebasan, kesejahteraan, dan sukacita. Kedamaian batin melambangkan perasaan lega dan terbebas yang muncul ketika seseorang telah mengatasi pengaruh semua belenggu. Ini adalah keadaan pikiran di mana penderitaan tidak bisa lagi mencapai. Sebagai hasil dari pencerahan, pikiran memperoleh kekuatan mental yang luar biasa dan pengetahuan transendental sejauh ini sehingga tidak ada bentuk kebodohan yang dapat mengaburkan intuisi, wawasan, dan kebijaksanaannya. Bagi mereka yang telah mencapai pencerahan total, keempat bentuk belenggu telah dilepaskan. Batin menjadi bebas, damai dan aman.
KEKUATAN MENTAL DAN WAWASAN LUAR BIASA
Sifat sejati dari pikiran adalah murni, bercahaya, damai dan penuh dengan kualitas-kualitas indah. Tetapi karena dikaburkan oleh kekotoran batin di banyak masa kehidupan, pikiran kehilangan sifat sejatinya. Melalui pikiran yang benar dan meditasi yang sempurna, pikiran dapat kembali ke sifat aslinya - walaupun ini membutuhkan disiplin dan pengabdian. PIkiran seperti ini memiliki kekuatan luar biasa sehingga memahami hal-hal di luar akal orang kebanyakan.
Melalui konsentrasi satu titik (samādhi), ketika pikiran mencapai keadaan kesadaran meditatif yang sangat maju, atau penyerapan (jhāna), ia menimbulkan kekuatan mental yang luar biasa dan wawasan luar biasa (abbhiñña) yang dikenal sebagai 'Pengetahuan Tinggi'.
Pengetahuan Tinggi yang dapat diraih oleh batin yang damai meliputi:
- Tiga Pengetahuan ( Te-Vijjā ): menembus wawasan yang dibutuhkan pada tingkat akhir pencerahan. Meliputi pengetahuan mengenai kehidupan sebelumnya, pengetahuan mengenai kematian dan kemunculan makhluk-makhluk berdasarkan karma mereka (baik dan buruk), serta pengetahuan mengenai pelenyapan semua kekotoran batin.
- Delapan Pengetahuan Batin ( Attha-Vijjā ): meliputi wawasan intuitif, kekuatan ajaib dari pikiran, kemampuan batin fisik (seperti berjalan di atas air, mengambang di udara, berubah bentuk, membuat diri tidak terlihat), telinga dewa (mampu mendengar suara yang tidak dapat didengar), mampu membaca pikiran, kemampuan untuk mengingat kehidupan masa lalu, mengetahui kemunculan dan lenyapnya makhluk lain berdasarkan karmanya serta pengetahuan tentang lenyapnya semua kekotoran batin.
- Enam Kemampuan Batin ( Chalabhiñña ): kekuatan batin meliputi kemampuan untuk memperlihatkan kekuatan ajaib, pendengaran dewa, kemampuan mempengaruhi pikiran orang lain, mengingat kehidupan masa lalu, pengetahuan mengenai kematian dan kelahiran makhluk dan pelenyapan semua kekotoran batin.
- Empat Pengertian Sempurna (Patisambhida ): kemampuan batin terkait pemahaman akan Kebenaran (Dhamma). Termasuk di dalamnya adalah kepintaran memberikan keterangan maupun mengetahui akibat-akibat perbuatan, kepintaran meringkas Dhamma atau mengetahui sebab-sebab perbuatan, kepintaran menggunakan kata-kata atau bahasa (baik bahasa manusia dan binatang) serta kepintaran menerapkan atau menyesuaikan Dhamma (pikiran yang cerdas, cepat dan pintar). Kondisi ini dicapai oleh mereka yang telah menghilangkan kekotoran batin.
Hal-hal di atas mungkin terdengar tidak masuk akal bagi yang tidak mengetahuinya. Namun kemampuan ajaib dan mukjizat yang bersumber dari kekuatan batin telah tercatat sepanjang sejarah. Ini adalah hasil tambahan dari pelatihan batin dan meditasi. Meskipun mereka menunjukkan kemampuan batin yang unggul, kemampuan ini tidak dapat digunakan untuk keuntungan pribadi. Sebaliknya, harus dapat digunakan sebagai kendaraan untuk mengantar mereka menuju pemahaman dan kebijaksanaan mendalam yang tidak dapat diraih cara biasa. Pengetahuan mengenai kelahiran sebelumnya, sebagai contoh, dapat menjelaskan proses kelahiran kembali dan konsekuensi dari tindakan seseorang di masa lalu. Pengetahuan mengenai lenyapnya kekotoran batin membantu untuk melawan kekotoran batin dan membebaskan seseorang dari penderitaan. Pengetahuan semacam ini hanya dapat diakses oleh batin yang suci dan damai.
BEBAS DARI PENDERITAAN
Kita semua mendambakan hidup damai dan bahagia bersama orang yang kita cintai, dikelilingi oleh kesenangan dan kegembiraan, namun jika ada kemalangan yang diberikan oleh dunia yang kejam ini dan merusak ambisi serta harapan kita, maka kesedihan sudah pasti kita alami. Ia yang merasa sedih mendambakan bahagia, ia yang merasa bahagia juga mendambakan untuk lebih bahagia lagi. Kebahagiaan duniawi hanyalah kepuasan dari keinginan. Satu keinginan terpenuhi, keinginan lain muncul. Kebahagiaan duniawi tidak pernah terpuaskan.
Karena tidak ada yang sempurna dalam hidup, seseorang selalu menemukan alasan untuk tidak puas dengan apa yang dimiliki atau yang tidak dimiliki. Kita harus belajar untuk memanfaatkan yang terbaik dari situasi kita dan merasa puas dengan kehidupan. Mereka yang puas adalah yang berhenti menginginkan lebih. Ketika Anda menemukan kepuasan dalam hidup, Anda menemukan kebahagiaan.
Seringkali, kita terpaksa menghadapi keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Selama kita terlahir di dunia, kita tidak dapat lepas dari penderitaan. Tidak ada yang kekal dan semua akan berubah, tidak ada yang abadi dalam hidup. Melekat pada hal yang tidak kekal hanyalah membawa penderitaan. Memahami ketidakkekalan dan belajar untuk hidup dengannya adalah penangkal dari kemelekatan.
Semua yang mendukung kesuksesan kita, kekayaan, keluarga, karir atau pencapaian lainnya, menjadi bermanfaat jika dapat membuat kita bahagia. Sang Buddha menyebutkan ada empat jenis kebahagiaan bagi umat awam : Memiliki materi, menikmati kepemilikan materi, tidak terikat hutang dan menjalani kehidupan tak bercela. Namun tidak ada kebahagiaan di dunia ini yang dapat melebihi kebahagiaan Nibbana.
Mereka yang mencapai Nibbana telah tiba pada akhir penderitaan.
JALAN MENUJU PENCERAHAN
Tujuan akhir manusia adalah untuk mencapai Pencerahan. Sampai tujuan akhir tercapai, kita diharapkan untuk menjalani kehidupan yang mulia dan bermanfaat.
Mengetahui bahwa hidup sangatlah berharga, maka kita harus berusaha memberikan kasih sayang dan cinta kasih kepada setiap makhluk hidup, bahkan untuk makhluk terkecil yang merangkak di kaki kita. Kita menahan diri dari membunuh atau membahayakan makhluk hidup. Kita menjalankan hidup kita dengan kejujuran, integritas dan kepercayaan. Kita tidak mencuri dan melakukan pelanggaran seksual. Kita menghindari ucapan salah, ucapan jahat, fitnah dan celoteh tidak berguna. Dan kita hanya berbicara apa yang baik, bermanfaat dan benar. Karena minuman dan obat-obatan tertentu meningkatkan ketidakpedulian dan gangguan mental, kita menghindari mengonsumsi zat-zat yang memabukkan. Sebagai gantinya, kita berusaha untuk menumbuhkan perhatian dan pandangan yang jelas. Aturan prinsip- prinsip dasar perilaku ini sangat penting bagi orang yang menempuh Jalan menuju Nibbana. Menjalaninya berarti menempuh jalan yang mulus dan lancar menuju Nibbana. Melanggarnya berarti menghadapi rintangan dan kegagalan.
Mengikuti jejak Sang Buddha, kita mengejar kesempurnaan batin melalui Sepuluh Kesempurnaan (pārami) yaitu:
- Kedermawanan (dana),
- Menjaga moral (sila),
- Melepaskan keduniawian (nekkhama),
- Kebijaksanaan (panna),
- Usaha (viriya),
- Kesabaran (khanti),
- Kejujuran (sacca),
- Tekad (adhitthana),
- Cinta-kasih (metta) dan
- Ketenang-seimbangan (upekkha).
Sepuluh hal ini jika disempurnakan akan mengarahkan kita pada Ke-Buddha-an. Kita mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan, jalan menuju pencerahan, dengan melatih pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, tindakan benar, usaha benar, perhatian benar dan konsentrasi benar. Latih pikiran Anda melalui meditasi. Melalui meditasilah Sang Buddha mencapai pencerahan sempurna.
Latihlah semua Kebijaksanaan yang telah diajarkan, dari menghindari orang bodoh hingga bergaul dengan orang bijak, untuk membangun diri Anda dengan cara yang tepat, untuk menjaga orang tua dan keluarga Anda, untuk mengembangkan kebajikan kesabaran, rasa terima kasih, dan kepuasan, hingga memenuhi suatu kehidupan yang murni, bebas dari kekotoran batin. Selangkah demi selangkah, Anda akan semakin maju menuju tujuan akhir, Nibbana.
Berusahalah dengan tekun.
KEMENANGAN AKHIR
Seperti perang, kedamaian juga harus dimenangkan. Alih-alih memerangi ribuan atau jutaan orang dalam peperangan, Sang Buddha mengajarkan penaklukan diri melalui pembelajaran diri, pengendalian diri dan pengembangan mental. Daripada bertarung dengan orang lain, kita bertarung dengan diri sendiri. Daripada membunuh orang, kita membunuh kekotoran batin. Daripada menggunakan senjata dan amunisi untuk menghancurkan musuh, kita gunakan moral, mental dan kebijaksanaan untuk menghancurkan keserakahan, kebencian dan kebodohan yang ada di pikiran. Tidak ada kedamaian di dunia yang melebihi kedamaian di dalam diri.
Tanpa dengki kepada siapapun, dengan cinta kasih untuk semua, kemenangan hakiki telah dicapai. Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, pengembara telah tiba di tujuan dengan aman dan selamat. Beban telah diangkat dari pundaknya. Ia telah merasa lega. Batinnya terbenam dalam kedamaian Nibbana. Ia telah hidup bahagia di tengah orang-orang yang khawatir.
Pengembara yang berbahagia itu kini berdiri di ketinggian melampaui surga, hilang sudah keinginan dan kekotoran batin duniawi, tercapailah damai sejati Nibbana.
_______________
Demikianlah 38 Berkah Utama (Mangala Sutta) yang telah disharingkan, semoga daftar kebajikan dan prinsip-prinsip yang mengarah pada kebahagiaan sejati dan kebebasan dari penderitaan ini bermanfaat bagi Anda.
Mangala Sutta adalah salah satu teks yang dihormati dalam Kanon Pali dan memberikan panduan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang penuh berkah.
Comments
Post a Comment