*“Malu Itu Kayak Penjara dengan Cermin Kusam”* David Hawkins bilang, di skala kesadaran, Shame – malu (20) adalah level terbawah—lebih rendah dari takut, lebih hancur dari marah. Malu bikin orang nunduk bukan karena rendah hati, tapi karena takut keliatan busuk. Orang yang hidup di level ini jalannya kayak zombie: pelan, berat, pura-pura hidup tapi batinnya udah dikubur. Mereka percaya dirinya gak layak, gak pantas, gak berharga. Kayak main drama terus, tapi sutradaranya trauma masa lalu. Indikatornya? * Gak berani lihat mata orang lain. * Gak berani komunikasi menyampaikan maksud utama dengan orang yang dirasa level nya lebih tinggi – artinya hanya komunikasi basa basi saja * Suka ngumpet di keramaian, berharap gak ada yang notice. * Tubuh sering drop: gampang sakit, gampang lemes, gampang nyalahin diri sendiri. * Dan parahnya: merasa hidup ini hukuman, bukan perjalanan. Malu itu ibarat pake baju transparan tapi warnanya abu-abu kusam. Kamu merasa...
7 lapisan diri Lapisan pertama adalah lapisan fisik. Fisik merasakan rangsangan bisa dari pancaindra. Tujuan hidup hanya untuk mempertahankan kehidupan. Hanya mengandalkan sensasi fisik semata. Melihat apa yang dilihat tanpa adanya konsep. DIa bergerak karena kebutuhan fisik saja Lapisan kedua bisa disebut kesadaran kalbu memahami aspek yang dibutuhkan untuk hidup bersama dan sudah ada emosi. Setelah ada rangsangan dari pancaindra menimbulkan emosi, emosi senang, sedih, marah, jijik. Mudah dihasut, mudah marah. Lapisan ketiga adalah lapisan jantung, jantung ini menggambarkan derap kehidupan. Orang mulai bisa memberi aspek kasih sayang, sudah tidak mudah mengancam, kemarahan sudah berkurang. Sudah bisa ngerem kemarahan. Sudah merasakan kalau diancam juga jantung dredeg, kalau marah juga jantungku berdebar. Mulai ngerem marah Lapisan keempat adalah kesadaran titik tengah ini adalah kesadaran budhi yang menghubungkan 3 ke bawah dan 3 ke atas. Lapisan Bumi Budhi (badan tempat bu...
The Power of Now (1) ~ Eckjar Tolle Kebanyakan orang hidup seolah-olah masa lalu dan masa depan lebih nyata daripada apa yang sedang berlangsung sekarang. Pikiran kita selalu sibuk, memutar ulang kejadian lama yang tidak bisa diubah, atau memproyeksikan masa depan yang bahkan belum terjadi. Akibatnya, momen saat ini sering terlewat begitu saja. Kita bisa duduk di ruang yang tenang, tetapi kepala penuh dengan penyesalan, rencana, atau kekhawatiran. Tidak heran banyak orang merasa lelah, walau tubuh mereka sebenarnya sedang beristirahat. Padahal, hidup sejati hanya ada di detik ini. Masa lalu hanya tinggal memori, masa depan hanyalah bayangan yang belum jelas. Yang nyata hanyalah apa yang bisa kita rasakan sekarang: napas yang mengalir, suara di sekitar, detak jantung, atau percakapan yang sedang berlangsung. Semua pengalaman terjadi di sini, bukan kemarin atau besok. Jika kita melewatkan saat ini, sebenarnya kita melewatkan hidup itu sendiri. Ambil contoh sederhana: berjalan di tam...
Comments
Post a Comment