Healing bebas dari luka batin
Healing bisa membuat reseptor indra kita jenuh. Akhirnya orang jadi sakau dan ketagihan. Semua yang dilakukan terus menerus, terlalu melekat bisa adiksi. Akhirnya mencari stimulus baru yang rasanya semakin mampu mengisi kekosongan batin yang pati rasa. Akhirnya makin ingin healing, ketagihan nonton, shopping, meditasi.
Semakin ingin healing untuk bahagia tapi makin sedih, semakin kosong, semakin kesepian. Akhirnya butuh healing lebih besar. Akhirnya depresi dan punya gangguan mental besar.
Untuk bisa berhenti harus tau cacatnya. Healing butuh kebijaksanaan. Makin bijaksana makin dibutuhkan pengetahuan. Pandangan makin luas, makin tidak perlu healing
3 tahap penyembuhan
Pemahaman pada penyakit.
Asupan apa yang kita konsumsi
Support system, orang dan keadaan di sekitar.
Misalnya kita batuk harus tau batuk keringkah, batuk berdahak kah? Asupan makanan apa yang boleh dikonsumsi mana yang tak boleh dikonsumsi, jangan konsumsi gorengan. Support system orang disekitar tidak memberi gorengan.
Sakit batin menerima penyakit kita. Mempelajari penyebab penyakit ini. Apa yang perlu dilakukan saat sakit batin ini. Bila perlu konsultasi pada para ahli
Bila muncul pikiran negatif jangan bertindak jangan berucap apapun. Bila perlu menyendiri, perhatikan batin ini. Apapun yang dikatakan batin ini. Tidak mengikuti, tidak menyalakan hanya mendengarkan, melihat, merasakan apapun yang muncul di batin. Sadari aja pikiran, perasaan yang muncul. Kenali objek-objek yang ditangkap 5 indera. Tanpa menghakimi, menyalakan, juga tidak mengiyakan. Untuk menarik kembali pikiran ke present moment di saat ini dan disini. Agar pikirannya tidak jatuh dalam persepsi
Berhenti pakai topeng dan berbohong untuk menyenangkan orang lain, mengorbankan diri. Akhirnya malah down sendiri. Tapi bukan tidak peduli tapi tau kapasitas kita. Akhirnya kalau kita sering menekan diri sendiri kita juga akan menekan orang lain. Jadi kalau kata orang yang gini saya aja bisa masak kamu ga bisa. Jadi kita juga akan menuntut orang seperti kita.
Sadari kita bukan pikiran kita.
Saat adiksi lakukan sesuatu diluar kebiasaan. Ini bisa mengacu pada pengendalian diri. Makin bisa mengendalikan diri kita tidak mudah terluka, kita makin terbebas karena control di tangan kita sendiri. Pengendalian diri baik, potensi untuk mencapai pengembangan batin besar.
Kadang butuh mentor untuk, dicurhati. Tapi mentor itu tidak selalu ada. Jadi lebih baik menulis buku harian tentang perasaan kita. Nanti dibaca lagi untuk tau problemnya dan cari jalan keluar.
Saat meditasi semua luka batin, kotoran batin akan keluar, pikiran bisa makin ramai, tapi jangan diikuti, jangan dinilai hanya dilihat saja. Sabar, komitmen, catat apa yang dirasakan. Semua butuh waktu. Demi tujuan meditasi apa. Kita harus tau kalau diteruskan apa manfaat dan resikonya. Tujuan untuk menjaga komitmen, disiplin, konsisten. Saat kotoran batin sudah menipis kebijaksanaan mulai muncul. Seperti menenangkan air keruh endapannya akan dibawah dan airnya akan terlihat lebih jernih dengan mendiamkannya.
Jadi langkah pertama menenangkan batin, agar bisa melihat kedalam, keluar, melihat masa lampau. Bisa tau misi kita sekarang. Setelah batin tenang, kebijaksanaan mulai tumbuh. Makin jauh dari penyakit mental.
Apapun jangan sampai obsesi dan jangan sampai adiksi
Comments
Post a Comment