Ketakutan
Orang takut karena :
- Takut mati
- Takut kehilangan
- Takut Ditolak
- Takut diabaikan
- Takut sendiri
- Takut gagal
- Takut menua
- Takut tidak sukses
- Takut masa depan
- Dll
Faktor utama Takut adalah takut kehilangan
Orang takut mati karena takut hilang kehidupan, Takut gagal karena hilang sukses. Kehilangan ini adalah kekosongan. Kitapun adalah isi dari kekosongan. Jadi kita selalu mengisi semua kekosongan. Jadi banyak orang mengisi dirinya. Karena kita takut kekosongan. Jadi kegelisahan yang mengisi.
Saat kita merasa kosong kita akan gelisah.
Sadari kalau kitalah isinya. jadi kalau tau dompet kosong, ada kita yang bisa mengisinya, kalau rumah kosong kita sendiri, sadarilah kalau ada Aku yang mengisinya.
Saat orang berlebihan pun merasa kosong karena dia kekurangan ruang kosong juga. Jadi saat kita merasa di titik maksimal pencapaian kita, kitapun gelisah akhirnya merasa kehampaan dan kosong. Karena ruang kosongnya yang kosong tidak ada. Seperti gelas yang tidak terisi air, kita menyebutnya gelas kosong, karena isinya udara. Ada juga gelas berisi air kita menyebutnya ruang penuh, padahal itu gelas kosong dari udara dan sulit kemasukkan air lagi. Ruang kosongnya tidak ada karena sudah penuh. Orang yang berada di puncak pencapaian tidak ada ruang kosong lagi. Bingung apa yang harus kucari lagi. Jadi berbagilah sebelum penuh, agar bisa beli barang baru lagi.
Ketika kita merasa kosong adalah sesuatu yang membuat kita semangat untuk bergerak.
Agar orang tidak gelisah kadang merasalah cukup dulu. Untuk melambatkan laju. Belum berhenti hanya melambatkan lajunya. Jadi ngegas dan ngerem secukupnya. Nanti kalau sudah mati baru merasa benar-benar cukup dan berhenti. Cukup dan bersyukur adalah berterima kasih untuk tiap moment. Inilah hukum terima kasih. Mendapat kasih, menerima kasih dari orang lain. Kalau tolak kasih, adalah orang yang menolak apa yang kita berikan.
Cukup inilah bersyukur. Perbedaan bersyukur dan cukup. Begitu kita menyebut Sudah berarti sudah selesai. Kita seperti menolak saat diberi. Inilah rem untuk yang benar-benar berhenti. Begitu dia berkata "Sudah" seperti contohnya "Sudah deh serahkan saja pada Tuhan." ini mengandung perasaan putus asa. Padahal masih ingin tapi dia merasa tak sanggup.
Comments
Post a Comment