Tubuh dan Roh
TUBUH ADALAH SANGKAR, ROH ADALAH KEBEBASAN
Angka untuk matter atau tubuh 7
Ankga untuk Roh adalah 12
Ketika seseorang baru saja meninggal, yang pertama muncul bukan ketenangan melainkan kebingungan. Ia masih mencari kebiasaan lamanya. Ingin menendang bola seperti dulu, ingin berdiri di dapur dan memasak, ingin menyapa tetangga, ingin melakukan semua rutinitas yang dulu melekat pada tubuh. Rasanya seperti burung yang tiba-tiba keluar dari sangkarnya. Pintu terbuka, tapi ia tidak tahu harus terbang ke mana. Sayapnya ada, tapi ia lupa cara menggunakannya karena seumur hidup ia hanya belajar melompat di jeruji.
Padahal di luar sangkar itulah tempat yang sebenarnya. Tubuh memang memberi bentuk, tapi juga membatasi. Seperti ikan yang sejak lahir ditaruh di akuarium kecil. Ia berenang ke kiri mentok kaca, ke kanan mentok kaca, lalu mengira dunia memang selebar itu. Ketika akuariumnya pecah dan ia dilepas ke laut lepas, awalnya ia panik. Arusnya kuat, ruangnya luas, tidak ada dinding untuk bersandar. Tapi setelah itu ia sadar, inilah rumahnya yang sesungguhnya. Ia bisa menyelam lebih dalam, berenang lebih jauh, bertemu arus yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Begitu juga roh. Selama menempel pada tubuh, ia dipaksa tunduk pada hukum materi. Mau ke Surabaya harus naik kendaraan. Mau memeluk harus menggerakkan tangan. Mau bicara harus menggerakkan pita suara. Lama-lama roh mengira dirinya memang butuh semua itu. Ia mengidentifikasi dirinya dengan daging, tulang, dan nafas. Padahal ketika tali itu lepas, kemampuannya justru bertambah, bukan berkurang. Ia tidak perlu kaki untuk berjalan, tidak perlu mata untuk melihat, tidak perlu mulut untuk berbicara. Ia bisa berada di banyak tempat, bisa menembus jarak, bisa terbang.
Bukti paling sederhana terlihat pada orang yang menjelang meninggal. Beberapa jam sebelum napas terakhir, tiba-tiba ia bisa melihat ayah yang sudah lama wafat duduk di sudut ruangan. Ia bisa mengobrol, tersenyum, bahkan bertengkar pelan. Orang di sekitarnya tidak melihat siapa-siapa, tapi baginya itu nyata. Itu bukan halusinasi. Itu adalah saat ketika roh sudah mulai longgar dari tubuh, sehingga frekuensinya naik dan bisa menyentuh dimensi yang biasanya tertutup. Orang hidup tidak bisa melakukan itu karena masih terikat padatnya tubuh. Tapi roh yang hampir lepas bisa.
Karena itulah orang-orang yang mempelajari jalur supranatural sering melatih caranya mengeluarkan roh dari tubuh tanpa harus mati. Tujuannya bukan untuk meninggalkan dunia, tapi untuk membuktikan bahwa roh memang bisa bekerja mandiri. Analoginya seperti baterai HP. Baterai tetap memberi daya meskipun casing-nya dibuka. HP tetap bisa hidup, sinyal tetap bisa masuk, pesan tetap bisa dikirim. Tubuh itu casing-nya. Roh itu dayanya. Ketika casing dilepas sebentar, daya tetap menyala dan bahkan bisa menjangkau lebih luas karena tidak ketahan plastik dan logam.
Masalah kita adalah kemelekatan. Kita mengira bahagia itu harus ada syarat fisiknya. Dalam cinta misalnya. Kita berpikir baru bisa tenang kalau orang yang kita cintai ada di depan mata, bisa digandeng, bisa dipeluk, bisa diajak makan malam. Padahal koneksi antar roh tidak butuh kursi, meja, atau jalan raya. Dua roh bisa saling merasakan, saling menguatkan, saling mencintai tanpa satu pun dari mereka hadir secara jasad. Rasa dicintai tidak datang dari pelukan, tapi dari frekuensi yang saling bertemu. Rasa memiliki tidak datang dari status, tapi dari keterikatan jiwa yang tidak bisa diputus jarak. Ketika kita berhenti menuntut bentuk fisik, cinta justru menjadi lebih bebas. Kita bisa mencintai tanpa menuntut, bisa merasa dicintai tanpa mengejar.
Uang juga begitu. Kita diajarkan bahwa harus ada uang di dompet dulu baru bisa tenang. Harus ada angka di rekening dulu baru bisa bahagia. Padahal roh tidak mengenal kertas dan logam. Kelimpahan adalah rasa, bukan benda. Seseorang bisa merasa cukup, merasa berkelimpahan, merasa aman, meskipun secara materi belum ada apa-apa. Bukan berarti menolak usaha, tapi berarti tidak menggantungkan seluruh rasa pada materi. Karena begitu roh tidak lagi terikat pada gagasan kekurangan, ia menemukan cara-cara lain untuk mengalir. Jalan yang tadinya tertutup jadi terbuka, orang yang tadinya tidak dikenal jadi menolong, ide yang tadinya buntu jadi muncul.
Menyentuh pun tidak harus dengan tangan. Kita terbiasa mengira empati itu lewat tepukan di bahu, mengira perhatian itu lewat hadiah, mengira kehadiran itu lewat duduk berdampingan. Padahal roh bisa menyentuh langsung. Bisa hadir dalam mimpi, bisa memberi ketenangan lewat doa, bisa mengirim kekuatan lewat niat. Banyak orang pernah merasakan itu. Tiba-tiba di tengah malam yang sesak, ingat wajah seseorang dan langsung terasa lebih ringan. Tiba-tiba kepikiran nama seseorang, lalu beberapa menit kemudian orang itu mengirim pesan. Itu bukan kebetulan. Itu roh yang bekerja melewati batas tubuh.
Selama hidup kita memang dipaksa percaya bahwa tanpa tubuh kita tidak bisa apa-apa. Padahal tubuh hanyalah alat sementara. Ia seperti kendaraan sewaan. Berguna untuk menjelajah jalanan dunia, tapi bukan kita. Ketika sewaannya dikembalikan, pengemudinya tidak ikut hilang. Pengemudi itu justru baru bebas. Tidak perlu lagi bayar bensin, tidak perlu lagi takut mogok, tidak perlu lagi macet.
Maka kebingungan arwah yang baru lepas itu wajar. Ia masih membawa kebiasaan akuarium. Ia masih mencari bola untuk ditendang, panci untuk diaduk, tembok untuk disandari. Tapi semakin ia diam, semakin ia menyadari, oh, aku tidak butuh itu lagi. Aku bisa melihat tanpa mata. Aku bisa bergerak tanpa kaki. Aku bisa mencinta tanpa memiliki. Aku bisa memberi tanpa menyentuh. Dan pada saat itu sangkar benar-benar terbuka. Laut lepas benar-benar terasa.
Comments
Post a Comment