Posts

Investasi anak

 *ANAK BUKAN PROYEK, TAPI BENIH* *Orangtua sering kebakaran jenggot karena hasil anaknya, tapi lupa bahwa benih itu tumbuh sesuai tanah tempat ia ditanam.* Kalau tanahnya penuh kritik, cemaran trauma, dan pupuk omelan— ya jangan kaget kalau anak tumbuh seperti kaktus berduri, bukan bunga melati wangi nan ramah tamah. Anak-anak itu ibarat cermin yang memantulkan harapan orangtua, bukan fotocopy dari standar sosial yang tidak pernah puas atas apa yang sudah diraih. Dan ironisnya serta lucunya, banyak orangtua marah karena anaknya takut salah, padahal tiap hari mereka diperingatkan dengan kata-kata horor macam: _“Jangan begitu nanti gagal.”_ _“Belajar dong, masa begitu aja nggak bisa?”_ _“Lihat tuh anak orang…”_ Hellooo 😏👋 Anda sehat? Huahahaha  Itu bukan kalimat motivasi. Itu *mantra kutukan* bersertifikat *SNI (Standar Ngeselin Indonesia).*   Sekarang saya mau bahas tentang *Hukum Pengharapan*  yang mengatakan *Seseorang akan menjadi sesuai apa yang Anda percaya ten...

Keluar dari balik awan

 *KELUAR DARI BALIK AWAN* Dalam perjalanan spiritual, tidak semua langkah selalu tegap. Bahkan seorang Bhikkhu yang telah menempuh kehidupan suci pun bisa tergelincir pada kesalahan ringan (pācittiya) maupun berat (Pārājika). Namun, kesalahan bukan akhir dari kebajikan—ia bisa menjadi titik balik menuju kebijaksanaan. “Seorang yang salah lalu memperbaiki diri, ia menerangi dunia ini seperti bulan keluar dari balik awan.” — Dhammapada 173 Bila seseorang mengakui kesalahan dan berupaya memperbaiki diri, ia sedang menapaki kembali jalan Dhamma. Dalam hal ini, dukungan dengan welas asih (karuṇā) akan menjadi kebajikan. Namun bila seseorang menolak mengakui kesalahan dan berkeras dalam kelalaian, maka menyikapi dwngan diam tanpa membenarkan adalah bentuk kebijaksanaan (paññā). Mendukung tidak selalu berarti memberi dana; kadang berarti memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, memberi kata yang menyejukkan namun jujur, dan memberi doa yang menuntun ke arah benar adalah dana-mulia. “Duk...

Malu

 *“Malu Itu Kayak Penjara dengan Cermin Kusam”* David Hawkins bilang, di skala kesadaran, Shame – malu (20) adalah level terbawah—lebih rendah dari takut, lebih hancur dari marah. Malu bikin orang nunduk bukan karena rendah hati, tapi karena takut keliatan busuk.   Orang yang hidup di level ini jalannya kayak zombie: pelan, berat, pura-pura hidup tapi batinnya udah dikubur. Mereka percaya dirinya gak layak, gak pantas, gak berharga. Kayak main drama terus, tapi sutradaranya trauma masa lalu.   Indikatornya? * Gak berani lihat mata orang lain. * Gak berani komunikasi menyampaikan maksud utama  dengan orang yang dirasa level nya lebih tinggi – artinya hanya komunikasi basa basi saja  * Suka ngumpet di keramaian, berharap gak ada yang notice. * Tubuh sering drop: gampang sakit, gampang lemes, gampang nyalahin diri sendiri. * Dan parahnya: merasa hidup ini hukuman, bukan perjalanan.   Malu itu ibarat pake baju transparan tapi warnanya abu-abu kusam. Kamu merasa...

Pemaafan

 1. *Menyadari/Mengakui* - Tuliskan semua perasaan negatif, pemikiran negatif, mental block. Jujur pada diri sendiri. Termasuk rasa marah, sakit hati, dsb.  2. *Mengikhlaskan* - katakan pada semua perasaan/pemikiran tersebut: - "Terima kasih sudah menemani perjalananku selama ini, kali ini saya mau move-on" - "Saya memutuskan utk memaafkan setiap org yang menyebabkan saya punya masalah2 ini, seikhlas2nya" 3. *Mengubah* - Tuliskan journal Syukur Setiap hari - Baca Buku Positif - Berkomunitas dengan orang2 positif. 4. Action Lakukan tindakan yang membawamu lebih dekat dengan target. Dan ini poin ke-4 karena sebelum ini 3 poin yang ditulis Coach Roy membantu supaya tindakan kita selaras dengan tujuan dan target. Tindakan yg dilakukan dalam keadaan konflik emosi: pengen tapi takut, gak yakin tp harus/kewajiban. Pun jika berhasil biasanya menguras energi sangat besar baik fisik maupun emosional. Sebaliknya perasan "enak/nyaman" tanpa tindakan adalah suatu keada...

Npd

 NPD (Narcissistic Personality Disorder) adalah sebuah gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola perilaku yang egosentris, grandios, dan tidak empatik. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari NPD: ## Karakteristik Utama 1. *Grandiositas*: Orang dengan NPD memiliki pandangan yang sangat tinggi tentang diri mereka sendiri, dan seringkali merasa bahwa mereka lebih baik daripada orang lain. 2. *Kebutuhan akan pujian*: Mereka memiliki kebutuhan yang sangat besar akan pujian dan pengakuan dari orang lain. 3. *Kurangnya empati*: Orang dengan NPD seringkali tidak dapat memahami atau menghargai perasaan dan kebutuhan orang lain. 4. *Perilaku egosentris*: Mereka cenderung untuk memikirkan diri mereka sendiri dan kebutuhan mereka sendiri, tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan orang lain. 5. *Kurangnya rasa bersalah*: Orang dengan NPD seringkali tidak merasa bersalah atau menyesal atas tindakan mereka yang menyakiti orang lain. ## Gejala 1. *Mengharapkan pengobatan istim...

Damai tak tergoyahkan

 Damai tak Tergoyahkan (1) ~ Ven. Ajahn Chah Seluruh alasan untuk mempelajari Dhamma, ajaran Sang Buddha, adalah guna menyelidiki: cara mengatasi penderitaan serta mencapai kedamaian dan kebahagiaan. Apakah kita mau mempelajari fenomena fisik atau mental, pikiran (citta) atau faktor-faktor psikologikal-nya (cetasika), hanya manakala kita menjadikan pembebasan dari penderitaan sebagai tujuan utama kitalah maka itu berarti kita ada di jalur yang benar - tak lebih, tak kurang. Penderitaan mempunyai sebab dan kondisi bagi keberadaannya.  Harap dipahami dengan jelas bahwa sesungguhnya saat pikiran ini diam, ia ada dalam keadaan alami-nya keadaan normalnya. Namun begitu pikiran ini bergerak, ia menjadi terkondisi (sankhâra). Ketika pikiran terpikat pada suatu hal, ia menjadi terkondisi (conditioned). Saat kebencian timbul, ia menjadi terkondisi. Dorongan untuk goyang kesana kemari ini timbul dari pengkondisian. Jika ke-awas-an (awareness) kita kalah cepat dengan munculnya keadaan me...