Posts

Praktik yang Benar

 Praktik yang Benar ~ Ven. Ajahn Chah Dhamma adalah sesuatu yang harus di praktikkan dan dibawa masuk ke dalam. Jika kita tidak berlatih, kita tidak akan mengetahuinya. Kita tidak akan mengetahuinya hanya dengan membaca atau mempelajarinya. Atau jika kita mengetahuinya, pengetahuan kita masih tidak sempurna (cacat). ⋆ ⋆ ⋆ Vihara dipuncak gunung yang asri tentu sangat damai, tetapi ini tidak ada artinya jika pikiran kita tidak tenang. Semua tempat damai. Beberapa mungkin tampak mengganggu dikarenakan pikiran kita. Namun, tempat yang sunyi dapat membantu untuk menjadi tenang, dengan memberikan seseorang kesempatan untuk berlatih dan dengan demikian selaras dengan ketenangannya.  Kita semua harus ingat bahwa latihan ini sulit. Melatih hal-hal lain tidaklah begitu sulit, itu mudah, tetapi pikiran manusia sulit untuk dilatih. Sang Buddha melatih pikirannya. Pikiran adalah hal yang penting. Segala sesuatu dalam sistem tubuh ini menyatu dalam pikiran. Mata, telinga, hidung, lidah dan...

Sila Aktif dan Sila Pasif

 Sila Aktif dan Sila Pasif ~ Bhikkhu Sri Pannavaro Maha Thera Apakah sila yang aktif itu? Sila yang berwujud, yang berupa kewajiban moral kita. Sila yang aktif inilah yang merupakan kewajiban moral berupa berbuat yang baik. Jadi semua perbuatan baik yg bersifat aktif seperti pelaksanaan Dana ini adlh merupakan bagian dari Sila yg aktif ini. Contoh di pelaksanaan 5 Sila : Sila yang pertama: Tidak hanya tidak membunuh, itu adalah sila yang pasif, tetapi sila yang aktif adalah tidak hanya tidak membunuh tetapi juga menolong makhluk-makhluk yang menderita. Mempunyai metta karuna, cinta kasih dan welas asih, itu sila yang aktif. Yang kedua: Tidak hanya tidak mencuri tetapi juga mempunyai sila yang aktif. Kalau hanya tidak mencuri, itu pasif. Apakah yang aktif? Tidak hanya tidak mencuri, tetapi juga berdana, menolong, membantu dan mempunyai mata pencaharian. Seseorang yang tidak mempunyai mata pencaharian akan mudah untuk mencuri. Yang ketiga: Tidak hanya tidak berbuat asusila, itu sila ...

Penemuan Diri

 Penemuan Diri Ven. U. Revata Bagaimana seharusnya kita memperlakukan kekotoran batin? Apakah kita menerimanya, apakah kita menolaknya, atau kita menghancurkannya? Apakah ada cara untuk mengusirnya?  Di sepanjang kita melakukan latihan dhamma, kita akan menerima kotoran batin dengan benar: Menerima tanpa berpartisipasi. Sebelum kita melenyapkan mereka, kita harus menerimanya, karena kita memilikinya.  Kita tidak bisa menolaknya. Jika kita menolak, kita akan bergelut dengan argumen kita lagi. Kita akan berseteru dengan kekotoran batin kita. Ini bukanlah caranya.  Kita harus menerima tanpa berpartisipasi. Jika kita ikut berpartisipasi, mereka akan semakin menguat, kita akan menjadi seorang budak. Itu sebabnya, terima tanpa berpartisipasi. Ini merupakan praktik yang sangat penting. Saat kemarahan muncul,  lihatlah, 'Oh, kemarahan muncul dikarenakan objek yang tidak menyenangkan', terima saja. Jika kita tidak ikut terlibat, ia berhenti di sana. Keterlibatan kita aka...

Perkembangan Moral dan Spiritual

 Perkembangan Moral dan Spiritual  Ven. Dr. Sri Dhammananda Tanpa latar belakang spiritual, manusia tidak memiliki tanggung jawab moral: manusia tanpa tanggung jawab moral menimbulkan bahaya bagi masyarakat.   Ajaran Buddha telah menjadi mercusuar mengagumkan karena membimbing banyak pengikut menuju kebajikan dan kebahagiaan. Ajaran Buddha sangat dibutuhkan di dunia saat ini yang penuh dengan kesalah pahaman rasial, ekonomi, dan ideologis. Kesalah pahaman ini tidak akan pernah bisa diselesaikan secara efektif sampai semangat toleransi yang baik diperluas kepada orang lain. Semangat ini dapat dikembangkan dengan baik di bawah bimbingan agama Buddha yang menanamkan kerja sama moral etis untuk kebaikan universal. Kita tahu bahwa mempelajari sifat buruk itu mudah tanpa seorang master, sedangkan kebajikan membutuhkan seorang tutor. Ada kebutuhan yang sangat besar untuk mengajarkan kebajikan melalui ajaran dan teladan.   Dalam Ajaran Buddha dikatakan bahwa perkembangan spi...

Manusia dan Agama

 Manusia dan Agama ~ Ven. Dr. Sri Dhammananda   Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup di dunia ini yang telah menemukan agama dengan melakukan ibadah dan doa. Manusia mengembangkan agama untuk memuaskan keinginannya untuk memahami kehidupan di dalam dirinya dan dunia di luar dirinya. Agama-agama paling awal memiliki asal-usul animistik, dan mereka muncul dari ketakutan manusia terhadap hal-hal yang tidak diketahui dan keinginannya untuk menenangkan kekuatan-kekuatan yang menurutnya mendiami benda-benda mati. Seiring waktu agama-agama ini mengalami perubahan, dibentuk oleh lingkungan geografis, sejarah, sosial ekonomi, politik dan intelektual yang ada saat itu. Banyak dari agama ini telah terorganisir dan berkembang hingga hari ini, didukung oleh pengikut yang kuat. Banyak orang tertarik pada agama yang terorganisir karena kemegahan dan upacaranya, sementara ada beberapa yang lebih memilih untuk menjalankan agamanya sendiri, dalam hati menghormati guru agamanya dan menerapk...

Mengapa Populasi Dunia Bertambah?

 Mengapa Populasi Dunia Bertambah? ~ Ven. Dr. Sri Dhammananda Benar-benar tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ini adalah satu-satunya periode di mana populasi dunia meningkat.    Jika umat Buddha tidak percaya pada jiwa yang diciptakan oleh tuhan, bagaimana mereka akan menjelaskan peningkatan populasi di dunia saat ini? Ini adalah pertanyaan yang sangat umum yang ditanyakan oleh banyak orang saat ini.  Orang yang menanyakan pertanyaan ini biasanya berasumsi bahwa hanya ada satu dunia tempat makhluk hidup berada.  Kita harus mempertimbangkan bahwa wajar saja jika populasi meningkat di tempat-tempat seperti itu di mana kondisi iklim yang baik, fasilitas medis, makanan, dan tindakan pencegahan tersedia untuk menghasilkan dan melindungi makhluk hidup.   Kita juga harus mempertimbangkan bahwa sebenarnya tidak ada dasar untuk berpikir bahwa ini adalah satu-satunya periode di mana populasi dunia meningkat. Tidak ada cara untuk membandingkan dengan periode sejara...

Pandangan Buddhis tentang Pernikahan

 Pandangan Buddhis tentang Pernikahan ~ Ven. Dr. Sri Dhammananda   Dalam Buddhisme, pernikahan dianggap sepenuhnya sebagai urusan pribadi, individu dan bukan sebagai kewajiban agama.   Perkawinan adalah suatu konvensi sosial, suatu lembaga yang diciptakan oleh manusia untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia, untuk membedakan masyarakat manusia dari kehidupan binatang dan untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan dalam proses prokreasi. Meskipun teks-teks Buddhis tidak membicarakan masalah monogami atau poligami, kaum awam Buddhis disarankan untuk membatasi diri mereka pada satu istri. Sang Buddha tidak menetapkan peraturan tentang kehidupan pernikahan tetapi memberikan nasihat yang diperlukan tentang bagaimana menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia.  Ada banyak kesimpulan dalam khotbah khotbah-Nya bahwa bijaksana dan dianjurkan untuk setia kepada satu istri dan tidak menjadi sensual dan mengejar wanita lain. Sang Buddha menyadari bahwa salah satu penyebab ut...